Paus Benedictus XVI: Catatan Tentang Hubungan Antariman

Paus Benedictus XVI yang mengundurkan diri Senin 11 Februari memang tak memiliki “gaya” sebagaimana pendahulunya, Paus Johannes Paulus II. Benedictus bukanlah kesayangan media yang sering berkeliling dunia, namun lebih mengesankan seorang guru dan akademisi yang tenang dan teguh pada gagasannya akan kebaikan. Dia bicara tertata, bukan sekadar mengumbar ungkapan-ungkapan populis.

Selama masa kepausannya, Benedictus sempat mengundang beragam reaksi dalam kaitan hubungan gereja dengan umat beragama lain. Dia sempat memancing kemarahan kalangan Yahudi karena dianggap condong pada kebijakan era gereja pra-Vatikan II—era yang menganggap kalangan Yahudi sebagai sasaran Kristenisasi, dan mempersalahkan mereka secara kolektif sebagai bertanggung jawab atas wafatnya Kristus.

Bagaimanapun sebagaimana pendahulunya, Benedictus juga mencatat prestasi dalam merangkul kalangan Yahudi. Agenda pertamanya sebagai Paus adalah mengirim surat kepada Komunitas Yahudi Roma dan dia menjadi Paus kedua dalam sejarah–setelah Paus Johannes Paulus II—yang mengunjungi sebuah sinagog.

Dan dalam bukunya pada tahun 2011, “Jesus of Nazareth” Benedictus  membuat pemutihan atas tuduhan yang selama ini ditujukan kepada kaum Yahudi atas kematian Kristus. Di sana dia menjelaskan bahwa tidak ditemukan alasan apa pun dalam Alkitab yang menunjuk Umat Yahudi secara keseluruhan sebagai bertanggung jawab atas kematian Yesus.

“Benedictus adalah sahabat sejati Umat Yahudi,” demikian Rabbi David Rosen, ketua hubungan antarumat beragama dari American Jewish Committee.

Dalam perjalanan ke Polandia, Benedictus juga berdoa di bekas kamp Auschwitz-Birkenau– sebuah kunjungan yang sangat penting dari seorang Paus berkebangsaan Jerman di tanah Polandia.

“Di tempat seperti ini, kata-kata tak punya makna; pada akhirnya, hanya ada kesunyian yang mencekam, kesunyian yang sebenarnya merupakan tangisan hati kepada Tuhan: Mengapa, Tuhan, Engkau diam saja (ketika itu)?” demikian Benedictus mempertanyakan.

Bagaimanapun, kunjungannya ke Israel pada 2009 sempat disikapi dengan dingin oleh kalangan nasionalis negara itu, terutama karena himbauannya agar Israel mengakui keberadaan sebuah negara Palestina.

Kalangan Yahudi juga merasa kesal karena usulan Benedictus yang terus menerus untuk mempromosikan Paus Pius XII sebagai seorang Santa, padahal Paus di era Perang Dunia II itu dianggap gagal mencegahj bahkan sekadar mengecam Holocaust. Kalngan Yahudi juga mengecam keras Bendictus saat dia mencabut hukuman pengucilan seorang uskup tradisionalis Inggris yang tidak mengakui Holocaust.

Bagaimana hubungan Bendictus dengan kalangan Muslim? Tak beda, kesan yang muncul pun campur-campur.

Pidatonya di Regensburg, Jerman, pada September 2006, lima tahun setelah peristiwa 911 di Amerika Serikat, mengundang kecaman keras kaum Muslim. Ketika itu dia mengutip Kaisar Romawi  yang menyebut bahwa ajaran Islam “kejam dan tidak manusiawi,” terutama menyangkut “ajaran untuk menyebarkan iman dengan pedang”

Bagaimanapun sebagian besar kemarahan yang muncul akibat salah langkah Benedictus dalam hubungan antariman terjadi karena problem komunikasi: di era Benedictus, kehumasan Vatikan seringkali terbata-bata, lambat dalam menanggapi berita yang muncul dan pada akhirnya malah bereaksi secara tidak tepat hingga memerlukan dua atau tiga kali pernyataan klarifikasi, sebelum semuanya kembali normal. [PN/mizanmag/huffingtonpost.com]