11 Pelajaran Dari Penemuan Penting Abad Ini: Mi Instan

Meracik mi di museum mi instan di Osaka Jepang. (Foto Miner8.com)

Ngelmu.com – Mi instan benar-benar telah membawa Jepang go internasional karena mi instan tidak hanya makanan nasional, tapi sudah menjadi makanan global.

Kepraktisannya membuat warga dunia berutang besar pada Momofuku Ando, pendiri Nissin Foods sekaligus pencipta mi instan yang sekarang kita kenal.

Apa saja yang kita bisa pelajari dari penemuan mi instan?

1. Kondisi Sulit Justru Menciptakan Peluang

Kondisi Jepang pasca Paerang Dunia Kedua

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, segala bahan pokok menjadi mahal. Terutama bahan makanan. Beras langka. Ramen susah dicari. Kala itu, Menteri Kesehatan Jepang menyarankan warganya makan roti, yang tentu saja gandumnya dipasok dari Amerika Serikat. Hal ini membuat Momofuku Ando bingung.

Ando tersentil dengan komentar sang menteri kesehatan yang mengatakan perusahaan mi yang dipunyai Jepang masih amat kecil dan belum bisa memasok kebutuhan masyarakat.

Sementara faktanya, masyarakat rela berada di barisan antrean panjang di pasar gelap hingga tengah malam, demi semangkuk ramen hangat yang baru dibuat.

Dari pengalaman getir itu, Ando mencoba membuat ramen yang mudah didapat dan harganya murah. Ramen yang bisa disantap oleh siapapun. Terutama bagi mereka yang dompetnya kempes.

2. Kadang Masalah Justru Adalah Pintunya

Menggoreng tempura (foto:speculoosjio.files.wordpress.com)

Ide Ando adalah membuat Ramen yang mudah didapat tapi harganya murah. Terkait idenya itu ia terbentur masalah. Ramen adalah makanan yang tak bisa tahan lama. Selama berbulan-bulan dia coba tuntaskan pekerjaan rumahnya. Yakni  menemukan cara bagaimana ramen bisa bertahan lama, tidak basi dan jamuran.

Suatu hari, Ando melihat istrinya sedang menggoreng tempura. Ando langsung mendapatkan ide.   Ando lalu mencoba menggoreng mi selama beberapa detik, dikeringkan, lalu dikemas. Ando, yang merupakan pendiri Nissin Foods, akhirnya menjual mi instan pertamanya pada 1958.

3. Pada Awalnya Justru Jadi Makanan Mahal

Produk mi instan pertama Chikin Ramen (Foto: www.gurashii.com)

Upaya Ando membuat mie kering akhirnya terwujud. Ia bahkan bisa menambahkan rasa kaldu ayam. Produk mie pertamanya diberi nama Chikin Ramen.

Tapi ada satu masalah lagi. Setelah dihitung-hitung, ongkos produksinya menjadi jauh lebih mahal dibandingkan mie ramen mentah yang ada di pasaran.

Produk mie nya bahkan masuk kategori makanan mewah karena harganya mahal. Tapi Ando tidak menyerah sampai di sini.

4. Keyakinan Jadi Kenyataan

Meski pada awalnya produk mie kering buatan Ando masuk kategori makanan mewah, pada akhirnya mi instan jadi makanan yang merakyat. Keyakinan yang kuat itu membuat segalanya dapat terwujud.

Kondisi dunia mendukungnya. Dari hari ke hari harga gandum menjadi makin murah dan tingkat ekonomi warga Jepang yang membaik. Mi instan akhirnya bisa menjadi produk murah dan terjangkau semua kalangan.

5. Penemuan Awal Pintu Inovasi Terbesar

Inovasi terbesar mi gelas pertama tahun 1971

Pada 1970, Ando pergi ke Amerika Serikat untuk mengurus ekspor mi instan ke negara Paman Sam itu. Ando melihat orang Amerika jarang makan menggunakan mangkok. Ia justru menyaksikan, warga Amerika memakan mi dengan cara mematahkannya jadi dua lalu ditaruh di gelas, kemudian diseduh dengan air panas.

Sumpit nyaris tak pernah digunakan selain oleh warga Asia. Sebagian besar orang di AS makan mi menggunakan garpu.

Inspirasi inilah yang melahirkan inovasi terbesar Ando, yakni noodle cup alias mi dalam gelas. Produk ini mulai dijual Nissin pada 1971.

6. Inovasi Terbesar Tapi Harga Lebih Murah

Secara konsep dan praktik, mi gelas jauh lebih praktis ketimbang mi instan. Jika mi instan perlu direbus, mi gelas hanya perlu diseduh air panas. Ini artinya, konsumen tak perlu menyediakan kompor atau panci untuk memasak. Cukup sediakan air panas dari termos.

Secara ongkos produksi, mi gelas lebih murah ketimbang mi instan karena ukuran mi-nya lebih kecil. Harga jualnya jadi lebih murah. Produk ini membuat Nissin jadi perusahaan yang lebih besar lagi.

7. Umur Produk Inovasi Sampai Kapan?

Data konsumsi mi instan tahun 2015

Tahun 2016, mi gelas memasuki umur 45 tahun. Sebuah umur yang panjang untuk sebuah produk. Ini membuktikan mi instan dan mi instan gelas mampu bertahan dan berhasil jadi bagian penting panganan umat manusia.

Data The World Instan Noodles Association menunjukkan sekitar 97 miliar bungkus mi instan yang terjual pada 2015. Penduduk bumi pada 2015 berjumlah sekitar 7,2 miliar. Ini artinya, setiap orang bumi mengonsumsi 13 bungkus mi instan setiap tahunnya. Wow! (Catatan: tak semua orang mengonsumsi makanan yang kerap dituding tak sehat ini)

Tak bisa dipungkiri kalau mi instan banyak jasanya. Terutama bagi para mahasiswa yang sedang menunggu kiriman uang dari orang tua. Pekerja yang tongpes di akhir bulan. Saat ada bencana alam, mi instan juga jadi logistik andalan yang dikirim untuk para korban termasuk relawan karena kepraktisannya.

8. Pasar Terbesar Justru Di Negara Tetangganya

Cina menjadi negara yang paling banyak mengonsumsi mi instan (Foto: www.npr.org)

Pasar terbesar mi instan adalah Tiongkok bukan Jepang. Pada 2015, Cina mengonsumsi 40 miliar bungkus. Diikuti oleh Indonesia, yang mengonsumsi 13,2 miliar bungkus. Saat ini mi gelas sudah beredar di 80 negara.

9. Adaptasi Itu Kunci

Penampilan salah satu ramen terenak di Chicago AS

Meski tampak sebagai produk sederhana, mi instan tetap melakukan adaptasi agar bisa diterima di seluruh dunia.

Di Amerika suara sruput saat menyantap mie dianggap tidak sopan. Karena itu, bentuk mi-nya lebih pendek.

Berbeda dengan di Jepang dan banyak negara Asia lain, menyeruput mi dengan nikmat hingga mengeluarkan bunyi slurp panjang, adalah bentuk penghormatan. Bentuk mi yang panjang juga mengandung falsafah keberuntungan dan umur yang panjang. 

Di Indonesia, produk mi instan punya saus cabai atau bubuk cabai ke dalam kemasan. Di Eropa, mayoritas orang menghindari rasa pedas. Karena itu, Indomie di sana tak ada saus pedas atau bubuk cabai.

Mi gelas juga berubah sesuai selera pasar. Di Indonesia, mi gelas bukan hanya muncul dalam bentuk mi kuah, namun juga mi goreng, meski agak ribet karena harus membuang kuahnya.

10. Serius Dalam Semua Hal

museum mie isntan di Osaka Jepang

Ando menunjuk Koki Momofuku, anak keduanya, sebagai Presiden Perusahaan di tahun 1999.

Untuk mengisi hari tua, Ando membuka museum mi instan yang bernama Momofuku Ando Instant Ramen Museum di Osaka. Orang Jepang menyambut antusias. Setiap tahun, museum ini dikunjungi oleh sekitar satu juta wisatawan.

11. Inovasi Tiada Henti

Bentuk mi instan yang dibawa astronot Jepang Soichi Noguchi ke luar angkasa (Foto: gaijinagogo.blogspot.com)

Di tangan Koki, Nissin kembali berinovasi. Pada 2005, mereka mengeluarkan produk mi instan yang dikemas dalam wadah kedap udara. Dikemas khusus untuk bekal Soichi Noguchi, astronot Jepang yang berkesempatan pergi ke luar angkasa.

Mimpi Ando agar mi buatannya bisa sampai ke luar angkasa akhirnya tercapai.

Dua tahun kemudian, Ando meninggal dunia karena gagal jantung di usia 96 tahun.

Mi instan terus berkembang hingga ribuan merek dengan beranekaragam rasa mi instan. Dari rasa klasik kaldu ayam, baso sapi, kare, laksa, hingga yang modern seperti mi instan dengan tambahan gojuchang.

Meski banyak penelitian yang menunjukkan mi instan sebagai makanan tak sehat, tapi orang-orang tampaknya masih belum bisa lepas dari jeratan kepraktisan mi instan.