Bagaimana Sih Tata Cara Pelaksanaan Haji? Simak Yaa

Ngelmu.com, Depok –
Haji merupakan rukun islam yang terakhir, dalam rangka menyempurnakan ketaatan
seseorang kepada Allah SWT. Dikatakan sebagai ibadah penyempurna ketaatan
karena dalam penyelenggaraan ibadah haji telah dirangkum semua amaliah yang
tercantum di Rukun-rukun Islam lainnya. Oleh sebab itu, bagi hamba Allah SWT
yang melaksanakan ibadah haji harus memperhatikan tata cara berhaji sebagaimana
Rasulullah ajarkan. 
news.okezone.com

Syarat Berhaji

Namun sebelum
melangkah jauh ke tata cara berhaji dan pembahasan penting ketika berhaji,
seorang hamba Allah yang ingin menunaikan ibadah haji wajib memperhatikan
syarat wajib berhaji. Syarat wajib berhaji yaitu kondisi dimana seseorang
dikatakan wajib menunaikan ibadah haji. Apabila syarat tersebut belum terpenuhi
maka orang tersebut tak wajib menunaikan ibadah haji. 

Islam 

Sama seperti
ibadah-ibadah lain dalam islam, ibadah haji hanya diberlakukan oleh pemeluk
agama islam saja. Ditambah ibadah haji merupakan jenis ibadah yang terikat oleh
waktu dan tempat. Makkah al-mukarramah merupakan tempat pelaksanaan ibadah
haji, tempat haram diinjak oleh orang kafir (non muslim)

Baligh

Anak-anak yang belum
berumur taklifi ( sudah cukup umur atau sudah bisa dibebani dengan dosa),
tak diwajibkan menunaikan ibadah haji. Namun apabila mengerjakan ibadah haji,
maka hajinya dianggap sah. Akan tetapi kewajiban haji masih berlaku ketika ia
baligh. Artinya setelah sampai umur taklifi (baligh), ia masih menerima
kewajiban beribadah haji.

Berakal
Sehat   

Bukan berarti tak
diperbolehkan untuk beribadah haji, namun sebaiknya orang yang akan berhaji
haruslah orang yang berakal sehat. Bagi mereka yang sedang mengalami gangguan
jiwa maka tidak wajib haji. Sampai dirinya sembuh dari gangguan jiwa agar
pelaksanaan dan tata cara berhaji 

Merdeka dan Mampu

Makna kata merdeka
yaitu tidak menjadi budak, berstatus budak. Memiliki kecukupan nafkah sehingga
mampu untuk mendaftarkan diri di program naik haji. Tidak dalam kondisi sakit
kronis yang artinya hanya sakit-sakit ringan, tidak terlalu tua sehingga mampu
untuk mengikuti semua tata cara berhaji.

Prosedur Berhaji

Dalam prosedur
menunaikan ibadah haji, terdapat rukun dan wajib haji yang perlu dilaksanakan
oleh setiap peserta ibadah haji. Berikut ini adalah prosedur berurut kegiatan
ibadah haji: 

Sebelum 8 Dzulhijjah,  

Jamaah Haji mulai
berduyun-duyun untuk melakukan Thawwaf Qudum di Masjidil Haram, Mekah. Para
calon jemaah haji mengenakan pakaian Ihram yaitu berupa dua lembar kain tanpa
jahitan sebagai pakaian berhaji, sesuai miqat, melafazkan niat haji serta
bacaan Talbiyah. 9 Dzulhijjah Pagi 
Di pagi hari seluruh
jemaah haji bersama-sama menuju padang Arafah guna melaksanakan ibadah wukuf.
Wukuf ialah berdiam diri dan memanjat doa di padang Arafah hingga Maghrib tiba.
Rasulullah bersabda Al-hajju ‘Arafah”, maksudnya adalah inti dan puncak haji
adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal, mengetahui, dan
menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri. 
Banyak orang memaknai
Wukuf di Arafah adalah sebuah meditasi dan menengadah untuk merenung juga
berintrospeksi diri di hadapan Allah SWT. Dengan melaksanakan wukuf di Arafah,
para jemaah haji diharapkan sadar akan dirinya, dari mana kita (manusia)
berasal dan kemana kita akan pergi, menyadari akan tugas serta tanggung
jawabnya, serta mampu merealisasikan yang disadari dengan tindakan nyata dalam
kehidupan sehari-hari.  

9 Dzulhijjah
Malam 

Para jemaah haji
berangkat menuju Muzdalifah untuk mengerjakan Mabbit yaitu salah satu sarana
tarbiyah (wasa’ilut tarbiyah) atau bermalam dan mengambil batu secukupnya lalu
lempar jumroh. Mabit di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah setelah sebelumnya
wukuf di Arafah. Pada sisi barat Muzdalifah terletak Masy’aril Haram, gunung
Quzah. Di tempat ini para jemaah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal  telah melewati tengah malam. Lebih disarankan
apabila mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina
untuk melakukan  Jumroh Aqobah.

9 Dzulhijjah Tengah Malam

Setelah menjalankan
aktifitas mabbit, para jemaah haji melanjutkan perjalanan menuju Mina untuk
ibadah lontar Jumroh. Mina merupakan lembah di padang pasir yang berjarak 5 KM
sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Mina mempunyai sebutan Kota Tenda,
karena di Mina terdapat banyak tenda-tena yang dibangun untuk para jemaah haji
yang berjumlah jutaan dari seluruh dunia. Jamaah haji ke Mina untuk melempar
jumrah. Lokasi pelemparan jumroh di Mina berjumlah 3 yaitu Aqabah, Wusta dan
Jumrah Ula.

10 Dzulhijjah

Jemaah Haji melempar
Jumroh sebanyak tujuh kali ke Jumrah Aqabah sebagai simbolis mengusir setan.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa saat Ibrahim membawa Ismail untuk disembelih, setan hadir dengan maksud membujuk Hajar sang Istri agar menghentikan langkah suaminya itu. Sebagi seorang
ibu, menurut setan, Hajar tidak akan sampai hati mengetahui buah hatinya
dikorbankan. Perkiraan setan ternyata meleset. Bukannya menuruti bisikan setan,
Hajar malah mengambil batu dan melemparinya berkali-kali.
Dalam ibadah haji,
melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat
hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar
memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya. Panji-panji harus terus
dikibarkan dan genderang perang melawan setan harus terus ditabuh. Dilanjutkan
dengan tahallul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.  

11 Dzulhijjah

Jika matahari telah
tergelincir, melempar tiga jamrah, dimulai dari jamroh sughro (yang terletak di
samping masjid Al-Khaif), lalu jamroh wustho, lalu jamroh kubro (yang dikenal
dengan jamroh ‘aqobah). Kembali mabit di Mina.

12 Dzulhijjah

Melakukan amalan yang
sama dengan tanggal 11 Dzulhijjah. Kembali mabit di Mina, kecuali bagi yang
telah berniat untuk bersegera mengakhiri amalan hajinya (mengambil nafar
awwal), hendaklah melakukan thawaf wada’.