Pemuka Umat Buddha: Tak Perlu Saling Menyalahkan

Ngelmu.com, Jakarta – Mungkin kita
sebagai umat Islam pantas malu dengan pernyataan pemuka umat Buddha di Kota
Tanjung Balai ya. Kerusakan tempat beribadah umat Buddha yang diamuk massa pada
Jum’at (29/7) lalu karena kesalah pahaman dan aksi provokatif yang dilakukan
oleh oknum pemecah belah kemajemukan budaya dan agama di Medan.
datanglagi.com
Leo Lopulisa selaku pemuka umat
Buddha menyatakan bahwa peristiwa ini tak perlu menjadikan kita saling
membenci, dan menuduh atau dituduh atas konflik berbau isu SARA yang berakhir
dengan aksi pembakaran dan pengrusakan beberapa vihara dan kelenteng setempat.
Menurutnya peristiwa yang merusak
tempat ibadah umat Buddha dan Konghuccu pada 30 Juli lalu adalah aksi spontan
dan tak ada asas perencanaan.
“Bagi kami, ini hanya sekedar
luka di luar yang nantinya membuat kita semakin dewasa, semakin kuat untuk
menhadapi hidup berdampingan dan bertoleransi dalam bermasyarakat” imbuh Leo.
Banyak pihak yang menunjukkan
atensinya, keprihatinan dan solidaritas terhadap peristiwa ini, tentu ini
menunjukkan bahwa kita (semua umat beragama) mempunyai keinginan untuk hidup
rukun dan saling menghargai kepercayaan masing-masing.
Ketua Sagin (Sang Agung
Indonesia) Sumatera Utara Kurnia Bangun, mengharapkan semua pihak menjadikan
momen tersebut untuk belajar saling menghormati. Umat Buddha, Konghucu, Islam,
Kristen dan pemeluk agama lain diharapkan untuk menahan emosi diri sehingga tak
mudah terpancing provokasi karena isu yang beredar melalui media sosial yang
bisa saja menjadikan pemecah belah kerukunan antar umat beragama yang sudah
terjalin dengan baik.
Pasca peristiwa ini, banyak
atensi muncul di media sosial yang tidak hanya berisi keprihatinan, juga ada
yang berisi memojokkan dan menghujat salah satu pihak, seperti ingin menambah
keruhnya isu ini hingga menjadi panas kembali.
Selain itu ada juga pernyataan
seorang tokoh di media massa, pernyataan mereka ada yang berkesan memelintir
keadaan yang beresiko dapat memicu konflik mulai babak baru.
“Jangan sampai ini terjadi di
masa yang akan datang, semoga tidak ada kasus serupa dan media juga jangan
memanas-manaskan keadaan” Tutup Leo dalam perbincangan melalui telepon
tersebut.