Perjalanan Ahok, dari Bupati Beltim, Jadi Gubernur Ibukota, Suka Ngomong Kasar Hingga Dibui 2 Tahun

Ngelmu.id – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dihukum 2
tahun penjara dalam kasus penistaan agama. Ahok kini di tahan di Rutan
Cipinang, karier politiknya yang tengah menukik ke atas kini ikut tertahan tak
bergerak.

Karier politik Ahok yang tengah melejit kencang dan
tiba-tiba tertahan kasus dugaan penistaan agama yang bahkan berefek kepada
kekalahannya di Pilgub DKI 2017 jadi isu panas yang tengah ramai
diperbincangkan.
Bagaimana kisah perjalanan politik Ahok yang lahir dari
Belitung Timur ini?
Karier politik Ahok terlahir di Belitung Timur. Pada tahun
2004 silam ia bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB).
Saat itu ia menjabat Ketua DPC Partai PIB. Dengan kendaraan
PIB, ia mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dan terpilih jadi
anggota DPRD Belitung Timur periode 2004-2009. Ahok tak lama duduk di DPRD
Belitung Timur, pada tahun 2005 ia maju Pilkada Belitung Timur. Ahok yang
berduet dengan Khairul Effendi terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati
Belitung Timur.
Pada tahun 2007 Ahok mengundurkan diri dan maju dalam Pilgub
Bangka Belitung. Namun kali ini Ahok yang maju sebagai calon Gubernur Bangka
Belitung kandas di tengah jalan. Tertahan sebentar di Pilgub Bangka Belitung,
karier politik Ahok malah semakin moncer di tingkat nasional.
Pada tahun 2009 ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari
Partai Golkar. Ia pun duduk di Komisi II DPR, sampai kemudian mengundurkan diri
menjelang Pilgub DKI 2012. Setelah melalui dinamika politik yang luar biasa
panas, akhirnya Ahok diusung PDIP dan Gerindra sebagai pendamping Joko Widodo
(Jokowi) di Pilgub DKI 2012.
Jokowi-Ahok jadi fenomena, duet ini sukses menaklukkan
petahana, Fauzi Bowo (Foke), yang menang hampir di semua survei saat itu. Tak
lama menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengisi posisi Plt Gubernur DKI
Jakarta. Ahok ‘naik pangkat’ lantaran sang Gubernur Jokowi maju Pilpres berduet
dengan Jusuf Kalla.
Singkat cerita Jokowi-JK dengan Koalisi Indonesia Hebat
(KIH) sukses menaklukkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Koalisi
Merah Putih (KMP) dan Ahok kemudian menjadi Gubernur DKI definitif. Ia dilantik
Presiden Jokowi di Istana Negara pada 14 November 2014.
Setelah Ahok menjabat Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat
ditunjuk oleh parpol pengusung Jokowi-Ahok menjadi wagub DKI pendamping Ahok.
Ahok-Djarot pun banyak membuat pembangunan di Jakarta.
Namun mendekati Pilkada serentak tahun 2017 suasana politik
semakin memanas. Setelah melalui dinamika yang rumit akhirnya Ahok memutuskan
melanjutkan duet dengan Djarot Saiful Hidayat ke Pilgub DKI 2017. Empat parpol
pengusungnya adalah PDIP, NasDem, Golkar dan Hanura.Panasnya suhu politik
memuncak mendekati penghujung tahun 2016.
Sampai kemudian dalam sebuah kunjungan ke Kepulauan Seribu
Ahok menyinggung tentang surat Al Maidah. Setelah itu Ahok dilaporkan atas
dugaan penistaan agama. Setelah melalui proses hukum yang sangat panjang,
akhirnya pada Selasa (9/5/2017) sidang vonis digelar.
Dalam putusannya, hakim menyatakan Ahok terbukti bersalah
melakukan penodaan agama karena pernyataan soal Surat Al Maidah 51 saat
berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
“Menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan
penodaan agama,” kata hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto membacakan amar
putusan dalam sidang Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan,
Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).
Ahok dalam kunjungan 27 September 2016, didampingi sejumlah
anggota DPRD DKI Jakarta, Bupati Kepulauan Seribu, Kepala Dinas Kelautan
Perikanan dan Ketahanan Pangan serta para nelayan, tokoh masyarakat dan tokoh
agama.
Majelis hakim menyebut penodaan agama dengan penyebutan
surat Al Maidah dalam sambutannya saat bertemu warga di Tempat Pelelangan Ikan
(TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
Kalimat Ahok yang dinyatakan menodai agama yakni “jadi
jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa
pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak
Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena
saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.”
“Dari ucapan tersebut terdakwa telah menganggap surat
Al Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat, atau surat Al
Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian maka
menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat
51,” papar hakim dalam pertimbangan hukum.
Ahok dinyatakan majelis hakim terbukti melakukan tindak
pidana dalam Pasal 156a KUHP yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan
perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan
terhadap suatu agama.
Setelah hakim membacakan putusannya, Ahok pun mengajukan
banding. Ahok pun kini ditahan di Rutan Cipinang, demikian pula
karier politiknya terjun bebas setelah dia 
dibui.