Persahabatan Abadi Ibrahimovic dan Maxwell


Ngelmu.com, Depok – Hari ini tepat tanggal 3 Oktober 35 tahun yang lalu, telah lahir seorang anak laki-laki yang kini menjelma sebagai pria dan pemain yang sangat fenomenal di jagad sepakbola, dan pria itu bernama, Zlatan Ibrhahimovic.

Wujudnya yang tinggi besar, memang membuat gentar setiap bek-bek lawan ketika akan berhadapan dengan pria asal Malmo, Swedia ini. Belum lagi sifatnya yang arogan, semakin membuat Ibra di cap sebagai pemain yang sombong. Mungkin kata sombong akan terlontar dari mulut orang-orang yang secara pribadi tidak mengenal sosok pemain yang kini merumput bersama Manchester United.

Seperti yang saya bilang diatas, orang yang tidak memiliki kedekatan khusus akan seenaknya mencap Ibra ini dan itu, setelah mereka melihat sikap yang diperlihatkan sang Lord. Hal berbeda jika orang itu adalah Sherrer Maxwell, Maxwell adalah sahabat Ibra sejak, mereka berdua masih merumput bersama di Ajax Amsterdam.

Kebersamaan Ibra dan Maxwell bisa terjalin, karena keduanya sering berada dalam satu klub. Ajax, Inter Milan, Barcelona, dan Paris Saint Germain adalah deretan klub yang menjadi saksi persahabatan mereka.

Memang bagi sebagian orang, akan sulit untuk membayangkan jika memiliki sahabat seperti seorang Ibrahimovic. Sifatnya yang arogan serta egois, tentunya akan menjadi kendala tersendiri untuk siapa saja yang berteman dengan Ibra. Hal itupun diakui oleh Maxwell, Maxwell yang sudah lebih dari 15 tahun berteman dengan Ibrahimovic tentu sudah hafal dengan sifat sahabatnya itu.

Ibra yang bertemu untuk pertama kalinya dengan Maxwell, ketika berseragam Ajax Amasterdam. Kala itu Ibra merasa kesepian, ketika pertama kali mendaratkan kakinya di Amsterdam Arena kandang Ajax. Dan disaat itu pula ia bertemu Maxwell.

Maxwell pemuda asal Brasil memiliki sifat yang sangat bersebrangan dengan pria jangkung. Maxwell yang memiliki sifat pendiam alias kalem, memang jelas menjadi pelengkap Ibra yang terkesan arogan serta angkuh.

www.nytimes.com

Jika menilik perjalanan mereka berdua sejak masih di Ajax, terdapat cerita menarik dari mereka berdua. Ibra yang saat itu memang jadi pendatang dari klub Swedia, Malmo harus berjuang hidup di Belanda tempat ia memulai petualngan baru. Saat itu Ibra masih tidak segelamor seperti sekarang, yang dimana janganka untuk membeli mobil mewah, bahkan ia kesulitan untuk biaya hidup sehari-hari. Ibra kala itu hanya tinggal di sebuah penginapan kecil dengan fasilitas seadanya.

‘Sang Dewa’ pun sempat mengungkapkan kendalanya saat ia menjalani bulan-bulan pertama di Ajax. “Aku datang ke Amsterdam benar-benar sendiri, dan saya punya maasalah di bulan pertama,” ungkap Ibra. Ia juga mendapat kesulitan, ketika harus membayar uang sewa tempat penginapannya itu, sedangkan uang bayarannya, baru akan ia dapat di akhir bulan.

Dari permasalahan itulah, Ibra mendapatkan sahabat yang memang siap sedia disaat ia membutuhkan bantuan. Pria yang memang pada saat itu tidak memiliki siapa-siapa sempat bingung dengan keadaan itu. Lalu ia pun nekat untuk menghubungi Maxwell guna meminta bantuan, diluar dugaan Maxwell mengiyakan permintaan tolong Ibra.

“Setelah dua minggu, saya akhirnya memutuskan menelpon Maxwell dan saya mengatakan saya sedang mendapat masalah, ia pun berkata “OK”, datan saja kerumah saya. “Dia memberi saya matras untuk saya tidur di lantai. Aku tidur dirumahnya, aku bergaul dengan dia, makan bersama dan berkendara di tempat latihan bersama. Dan gaji pertama ku keluar, semuanya berjalan lebih mudah,” ungkap Ibra.

Maxwell pun menjelaskan tentang sifat temannya itu yang dinilainnya berbeda dengan sosok Ibra yang sering orang lihat. “Gambarannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Karakter kami memang berbeda, tetapi dia (Ibra) orang yang sederhana, punya rasa kekeluargaan dan dia tidak pernah berpura-pura, sama seperti saya. Seperti halnya dia, aku pun tidak suka orang-orang yang palsu, sederhana,”tegas Maxwell.

Jika melihat kesaksian Maxwell memaparkan kesamaan sifat mereka berdua, yakni tidak menyukai orang-orang palsu. Hal itu memang benar adanya, Ibra pernah mengungkapkan hal itu saat masih membela Barcelona, Pep Guardiola yang pada saat itu menjadi pelatihnya di Barca, menjadi sasaran kemarahan Ibra. Guardiola menurut Ibra, tidak menunjukan sifat profesional dengan tidak membicarakan permasalahan mereka berdua secara langsung, tetapi hanya dipendam.

Memang sangat telihat jika Maxwell adalah pelengkap yang pas untuk seorang Ibrahimovic. Meski memiliki sedikit persamaan sifat, akan tetapi ketika berada dilapangan sifat ke egoisan Ibra memang lebih terlihat ketimbang sahabatnya itu ketika berada di lapangan. Maxwell yang memang terlihat santai, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia pun tidak pernah mengumbar kata-kata yang menggambarkan dirinya hebat, hal ini tentu berbeda dengan Ibra yang bahkan tak segan menganggap dirinya adalah ‘Dewa’ sepakbola.

Mungkin karena hal itu, Ibra lebih sering dilirik mata kamera ketimbang Maxwell yang memilih untuk tetap rendah hati. Namun disamping itu, mereka berdua sudah menghasilkan 10 gelar untuk klub-klub yang pernah mereka bela selama 15 tahun terakhir. Sayang kebersamaan keduanya tidak berlanjut, ketika Ibra memutuskan tidak memperpanjang kontraknya bersama PSG dan memilih berlabuh di Manchester United, sedangkan Maxwell masih bertahan di PSG.

Meski kini tidak berada di satu klub yang sama, persahabatan akan tetap menjadi persahabatan walau harus dipisahkan jarak kedua negara yang berjauhan. Seperti halnya yang dikatakan Maxwell yang membuat merinding siapapun yang membacanya.

 “Di mulai sebagai teman dan sekarang dia seperti saudara bagi saya, “kata Maxwell. “Persahabatan kami telah dimulai ketika kita sama-sama lajang dan muda dan berlanjut sampai sekarang dengan keluarga kami . Jadi ini adalah persahabatan yang pasti akan tetap abadi setelah karier sepak bola kami berakhir.“