Sains: Aspek Astronomis Kumbang-Kotoran

Siapa sangka, kumbang kotoran yang hidupnya berkisar hanya beberapa sentimeter dari atas tanah, memanfaatkan panduan cahaya bintang untuk mendorong bola kotoran yang menjadi makanannya. Mekanisme navigasi yang menakjubkan ini dijelaskan pada Kamis 24 Januari di jurnal Current Biology,  dan kemungkinan berlaku tidak terbatas pada spesies kumbang kotoran Satyrus Scarabaeus yang secara langsung diperiksa para peneliti. Dengan mata majemuknya, kumbang-kumbang di seluruh dunia menerobos kegelapan malam dipandu oleh bintang.

“Ini hanya contoh lain betapa menakjubkan dunia binatang,” kata ahli biologi Eric Warrant dari Swedia Lund University, salah seorang peneliti. Warrant telah mempelajari penglihatan serangga selama hampir tiga dekade, dan mengkhususkan diri dalam sistem yang digunakan oleh kumbang kotoran.  Hewan yang dalam taksonomi  memiliki lebih dari 5.000 spesies ini, ditemukan di setiap benua kecuali di Antartika, dan diam-diam telah bertanggung jawab dalam memproses sekian banyak limbah dunia hewan.

Selama siang hari, kumbang kotoran menggunakan posisi matahari sebagai titik  acuan. Pada malam hari, mereka menyesuaikan diri dengan berbagai cahaya bulan yang terang atau, jika pandangannya dikaburkan awan, dengan pola cahaya yang terpolarisasi dari sinar bulan.

Bagaimanapun, kadang-kadang bulan tidak terlihat sama sekali, dan kumbang kotoran jelas tidak memiliki wawasan landmark  untuk menyesuaikan diri. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mereka menentukan arah dalam situasi tersebut.

Warrant dan kepala peneliti Marie Dacke, juga ahli Biologi di Lund University, menduga bahwa kumbang-kumbang itu memanfaatkan cahaya bintang—sebuah fenomena yang jelas, namun sering dianggap tidak relevan dengan navigasi serangga. Memang selama ini hanya burung, anjing laut, dan manusia, telah terbukti memanfaatkan panduan bintang, dan paus bungkuk serta katak kriket selatan sebagai calon kemungkinan lainnya.

Untuk menguji gagasan itu, Warrant dan Dacke menganalisis jalan S. Satyrus menggulirkan bola kotoran di dalam sebuah arena melingkar berdinding tinggi pada malam tak berbulan, namun hanya tampak bintang-bintang. Ketika arena ini dibuka, kumbang bergerak dalam garis lurus, seolah berjalan dengan insting naluriah. Namun ketika arena ditutup dari cahaya bintang, kumbang-kumbang itu berjalan bolak-balik, berputar-putar, dengan pola rute yang menampakkan kebingungan mereka.

“Mereka selalu berjalan lurus. Jika mereka tidak menggulung kotoran secara lurus, pasti ada sesuatu yang salah,” kata Warrant. “Mereka harus menjauh dari tumpukan kotoran binatang secepat mungkin, atau bola kotoran mereka akan dicuri oleh kumbang lainnya.”

Para peneliti kemudian mengulangi percobaan di planetarium Johannesburg, dengan konstelasi langit malam diproyeksikan pada langit-langit kubah planetarium tersebut. Sekali lagi, kumbang-kumbang itu menjejakkan jalur lurus jika mereka bisa melihat bintang-bintang, dan mereka pun berjalan tanpa kebingungan.

Mata kumbang kotoran tidak cukup kuat untuk membedakan bintang, “tetapi mereka dapat melihat  garis cahaya terang yang dipancarkan galaksi Bima Sakti,” kata Dacke. Warrant menduga bahwa serangga lain, terutama mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh di malam hari, juga memanfaatkan panduan cahaya bintang—kemampuan yang mungkin lebih sesuai dengan seleksi alam  dari waktu ke waktu.

Warrant mencatat bahwa wawasan yang diperoleh dari kumbang kotoran bisa memberikan manfaat.  “Ini sungguh  fantastis,” katanya tentang kemampuan astronomi kumbang kotoran. Warrant juga mempelajari bagaimana spesies tertentu lebah Panama yang terbang melintasi puluhan meter kawasan-gelap melalui hutan malam hari, tidak pernah menabrak begitu banyak rintangan yang ada seperti daun, misalnya, untuk menemukan kembali rumah mereka. “Bagaimana mereka melakukan hal ini masih menjadi misteri,” katanya. []

(PN/ mizanmag.com/ Kutipan wired.com dari “Dung Beetles Use the Milky Way for Orientation.” By Marie Dacke, Emily Baird, Marcus Byrne, Clarke H. Scholtz, Eric J. Warrant. Current Biology, 24 January 2013.)