Sang Bonek, Hakim Dwiarso Budi Santiarto

Hakim Dwiarso Budi Santiarto

Ngelmu.id – Hakim Ketua
yang menangani kasus Ahok, menduduki posisi sebagai Ketua Pengadilan
Negeri Jakarta saat dia ditunjuk sebagai Hakim Ketua untuk menangani kasus
Ahok. Dwiarso dilantik sebagai Ketua PN Jakarta sejak Agustus 2014 lalu dan
berpangkat Pembina Utama Madya. Hari ini, Selasa (9/5) siang, meskipun sempat
dibayangi spekulasi, dia memvonis Ahok bersalah dan dihukum penjara dua tahun
yang langsung ditahan di LP Cipinang.

Dwiarso lahir
di Surabaya, 14 Maret 1962. Inoenk adalah panggilan karib H Dwiarso Budi
Santiarto SH Mhum. Dwiarso merupakan suami dari Yanti SH MH dan ayah dua anak,
Rio dan Anya. Putranya, Rio (S-1 ITB dan S-2 UI), saat ini tinggal di Jepang
bekerja sebagai pelayan toko. Sedangkan, Anya (Hukum Unpar) bekerja sebagai
pegawai pajak di Palangka Raya.
Karir
Kehakiman Dwiarso sebelumnya adalah menjabat sebagai Ketua PN Semarang dan
berhasil memutuskan perkara-perkara yang melibatkan pejabat publik seperti
Ganjar Pranowo, dan kasus Korupsi di Semarang. Sedangkan untuk karir
pendidikannya, S1 Hukum Dwiarso ditempuh di Univeritas Airlangga. Untuk Pasca
Sarjana, Dwiarso merupakan lulusan Universitas Gajah Mada serta terakhir
Lemhanas (2016). Dia sampai sekarang pun masih tinggal di rumah dinas. Dwiarso
juga merupakan mantan atlet hoki PON Jatim dan atlet tenis mewakili provinsi di
mana dia bertugas waktu itu.
Suasana Sidang Ahok
Di mata teman-temannya,
ia dijuluki bonek (bondo nekat). Bukan hanya karena kelahiran Surabaya. Julukan itu diberikan teman-temannya yang menunjuk pada integritasnya sebagai hakim yang antisuap,
antigertak.
Mantan
asisten/sekretaris Mahkamah Agung ini sewaktu bertugas sebagai hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat memutus hukuman seumur hidup untuk koruptor BLBI. Bahkan,
waktu bertugas di Semarang, Inoenk juga memutus sengketa gubernur Jateng lawan
pengacara kondang Yusril dengan menghukum hakim temannya sendiri karena
menerima suap dan beberapa koruptor serta pejabat bupati Karang Anyar.
Keberaniannya
untuk berbeda dengan alasan hukum yang rasional itulah yang membuat Ketua
Mahkamah Agung Marsekal Sarwata sangat membanggakannya. Dosen favorit Fakultas
Hukum Universitas Trisakti itu kini menjadi tempat bergantung harapan keputusan
adil dari persidangan kasus penistaan agama Ahok. Ia memang menjadi gantungan harapan para penuntut keadilan yang mengharapkan
vonisnya terhadap Ahok terbebas dari pelbagai intervensi supaya wajah hukum
kita mendapat kepercayaan publik.
Ahok Divonis 2 Tahun Penjara