Sastra dan Aliran Sesat Jadi Media Favorit Penista Agama

Manusia memang
makhluk yang senang dengan elu-elu dan bangga apabila dianggap “unik” kemudian dikenal
luas, memiliki pengagum, pendukung dan pengikut. Tidak bisa dipungkiri bahwa cara
yang paling mudah untuk dikenal luas oleh masyarakat adalah dengan melakukan
perbuatan-perbuatan yang kotroversial. Di Indonesia sendiri salah satu cara
yang paling cepat untuk membuat kontroversi adalah dengan menghina, melecehkan
dan menistakan simbol-simbol keagamaan, terutama agama Islam yang dianut oleh
nyaris 90 persen rakyat Indonesia.
Kenyataan yang
pahit memang, tetapi harus kita akui bahwa meskipun mengaku Muslim, banyak
rakyat Indonesia yang justru tidak bangga dengan simbol-simbol keislaman. Bahkan
bukan sekadar tidak bangga, mereka terganggu dan malu dengan simbol-simbol
keislaman. Karena itu tidak sedikit yang justru bersorak kegirangan jika
simbol-simbol tersebut dihinakan. Bahkan penghina simbol-simbol itu didukung
dan dibela mati-matian. Padahal tidak ada faedahnya juga untuk mereka jika
membela orang-orang seperti itu. Mau bagaimana lagi, sejarah mencatat bahwa
penista simbol-simbol Islam sudah dilakukan sejak dulu kala, bahkan oleh
orang-orang yang tercatat sebagai pahlawan dalam sejarah.
Pelecehan Lewat Sastra
Martodarsono dan Djojodikoro
HOS Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh yang protes keras terhadap pelecehan agama yang dilakukan oleh Djojodikoro di surat kabar Djawi Hiswara.

Tercatat pada
tahun 1918 kedamaian kota Surakarta digoncang oleh surat kabar Djawi Hiswara
edisi 11 Januari 1918 No.5. Surat kabar yang diterbitkan N.V.Mij. t/v d/z
Albert Rusche&Co. dan dipimpin Martodarsono itu, memuat artikel Djojodikoro
yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”. Dalam artikelnya,
Djojodikoro menulis “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem
opium, dan kadang soeka mengisep opium.”
Para pengarang
memang memiliki daya khayal yang tinggi. Terkadang atas nama seni dan inspirasi
yang diakui datang dari Tuhan Yang Maha Esa mereka tidak tabu melabrak
batas-batas kesopanan dan kesantunan dalam beragama. Entah apa agama orang yang
tega menuliskan kata-kata yang dimaksudkan sebagai sastra tersebut yang jelas
kejadian ini menimbulkan kemarahan di kalangan umat Islam.
Peristiwa ini
oleh sejarawan Deliar Noer dipandang sebangai pertarungan antara kaum santri
dan abangan. Sebab sejak beberapa tahun sebelumnya dan setelah peristiwa
tersebut, kaum nasionalis Jawa yang abangan selalu melihat Islam sebagai
tandingan yang berasal “dari luar”,  yang
hendak menekan “kepercayaan Jawa”. Mereka kemudian mendirikan Comite Voor Het Javaansch Nationalism
(Panitia Kebangsaan Jawa) untuk menyalurkan aspirasi ideologis mereka.
Kegerahan umat
Islam merebak sampai ke daerah-daerah lain di luar Surakarta. Tidak
mengherankan sebab umat Islam memang sehati dan sejiwa. Orang yang benar-benar
beriman, di mana pun ia berada akan siap membela jika Nabinya dihina. Tokoh-tokoh
Muslim semisal Tjokroaminoto dan Hasan bin Semit- mengadakan pertemuan maraton
Sarekat Islam (SI) secara besar-besaran di Surabaya, untuk membahas penistaan
agama a la Djawi Hiswara. Akhirnya terjadi protes besar-besaran oleh umat
Islam. Sayangnya karena pemerintah saat itu dipegang oleh penjajah Belanda yang
memang berniat menjegal pergerakan Islam, para pelaku penistaan agama tersebut
dapat lolos dari jeratan hukum.
Tan Khoen Swie
 

Tan Khoen Swie
Pada
pertengahan bulan Maret 1925 sebuah penerbit di Kediri yang dimiliki oleh
seorang sastrawan bernama Tan Khoen Swie menerbitkan sebuah “karya sastra” yang
diberi nama Kitab Darmogandul. Kitab ini merupakan salah satu acuan untuk
aliran kebatinan yang banyak berkembang di Jawa saat itu. Kitab Darmogandul
sendiri ditulis pada masa kolonial Belanda dan sebagian besar menceritakan
runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak. Parahnya, kitab itu
banyak melecehkan Islam, seperti menafsirkan ayat suci Al-Qur’an dengan
kata-kata porno.
“Alif Lam Mim,
dzalikal kitabu la raiba, fihi, hudan lilmuttaqin artinya menurut Darmogandul
ialah Alif adalah huruf, hidup tak kena mati. Dzalikal: jika tidur kemaluannya
nyengkal (bangkit). Kitabu la: kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan
tergesa-gesa. Raiba fihi: perempuan yang pakai kain. Hudan:telanjang. Lil
muttaqin: sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita.”
Kitab Darmogandul yang
tidak diketahui penulisnya hingga kini, memang merupakan kitab yang ditujukan untuk
melecehkan Islam, dan mengagungkan budaya lokal. Para Wali Songo digambarkan
sebagai manusia-manusia yang tidak tahu balas budi yang mengkhianati Raja
Majapahit. 
Tidak perlu
dikatakan lagi bahwa terjadi protes besar-besaran kepada penerbit Tan Khoen
Swie tersebut karena jelas-jelas telah melecehkan simbol-simbol agama Islam
Dr. Soetomo
 

Dr. Soetomo sempat terjerat kasus penghinaan agama Islam
Tokoh yang
terkenal dalam sejarah sebagai pendiri Boedi Oetomo ini pernah juga
mengeluarkan edisi surat kabar yang menghina agama Islam. Sekitar bulan
Desember tahun 1930, surat kabar Soeara Oemoem yang diterbitkan oleh Studieclub
Indonesia dan dipimpin oleh Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang menghina
ibadah haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik
haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih
mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya “menyembah berhala Arab”,
serta menganjurkan orang Islam untuk pergi ke Demak saja daripada ke Mekah.
Kontan saja
umat Islam merasa dilecehkan dan dituduh tidak patriotik dengan tidak adil. Padahal
sejarah membuktikan bahwa orang-orang Indonesia yang sudah menjalankan ibadah
haji kembali ke tanah air dengan ghirah perjuangan yang lebih kokoh. Sebut saja
H. Miskin dan H. Samanhudi. Sungguh tidak pada tempatnya menghina ibadah haji
yang dilakukan oleh orang-orang Islam di era perjuangan kemerdekaan tersebut. Ormas
Islam yang bergerak di bidang politik, sosial, dan keagamaan lalu mengadakan
rapat-rapat umum yang menyerang penulis, Dr. Soetomo, dan Studieclub Indonesia.
Di berbagai kota dibentuklah panitia-panitia untuk membentuk opini publik dalam
menghadapi serangan orang-orang “kebangsaan”.
Setelah melihat
reaksi umat Islam, Dr. Soetomo berusaha berdamai dengan mengatakan kepada pers
bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada
Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. 
Pernyataan itu oleh Tokoh Persis, M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam
disebut sebagai ‘sahadat model baru’.
Kehebohan Soeara
Oemom 
habis terbenam, terbitlah tulisan nista lainnya yang dikarang
oleh seorang berinisial Tj. W. di surat kabar Soeara Indonesia
Dalam tulisan itu, ia menghina rukun dan perintah agama Islam. Salah satu rukun
Islam yang dihina, masih sama dengan yang sebelumnya, yaitu ibadah haji.
Tulisan itu kembali dikritisi oleh M. Natsir dengan tulisannya di Majalah Pembela
Islam
.
Sejatinya penghinaan
terhadap ibadah haji itu adalah bentuk dukungan kepada penjajah Belanda. Seperti
yang diketahui pada masa itu, Pemerintah Hindia-Belanda
mengeluarkan bermacam-macam aturan yang membatasi dan menghambat pelaksanaan
ibadah haji. Alasannya karena pemerintah Belanda trauma dengan perlawanan ummat
Islam di Hindia-Belanda banyak digerakkan oleh para haji dan ulama.
HB. Jassin dan Ki Panji Kusmin
 

HB. Jassin
Pertama kali
sejarah mencatatkan vonis hukuman terhadap kasus pelecehan agama terjadi pada
tahun 1968. Waktu itu Majalah Sastra yang diasuh oleh tokoh sastra tenama
Indonesia HB. Jassin mempublikasikan cerita kontroversial berjudul ‘Langit
Makin Mendung’ karya sesorang yang menyebut dirinya sebagai Ki Panji Kusmin
pada edisi Agustusnya.
Dalam cerpennya,
Ki Panji Kusmin menceritakan kondisi masyarakat Indonesia pada saat zaman
Gestapu yang masih dikuasai oleh paham Nasionalisme Agama Komunisme
(Nasakom).  Idenya menulis Cerpen itu berawal dari rasa geli melihat
golongan yang dahulu mendukung PKI, malah berbalik menyerang PKI setelah PKI
terganyang. “Saja mau bilang bahwa umat Islam ikut bersalah djuga
dengan meletusnja Gestapu!”. 
Namun masalah mencuat manakala ia
mengimajinasikan Tuhan, Nabi, dan Malaikat seperti makhluk biasa dalam
Cerpennya. Tuhan digambarkan menggeleng-gelengkan kepala, memakai kacamata
emas,dan mengangguk-angguk.
Masyarakat pun
tidak berkenan dengan cerpen yang melecehkan Allah SWT, Malaikat Jibril dan
Rasulullah tersebut. Protes pertama terjadi Medan. Karya ini dinilai menghina
dan melecehkan agama Islam. Sehingga Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara melarang
dan menyita majalah Sastra No. 8 edisi Agustus tahun 1968.
Menghadapi itu,
Pimpinan majalah Sastra, Darsjaf Rahman, malah balik protes dan menuntut
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Protes ini dilayangkannya atas dasar
nilai-nilai asasi perjuangan kemerdekaan pers yang menjiwai pers Indonesia. Ia
juga meminta bantuan dan dukungan penuh dari SPS, PWI, serta seluruh simpatisan
majalah Sastra. HB Jassin, selaku Pemimpin Redaksi majalah Sastra juga ikut
protes. Menurutnya, Cerpen Kipandjikusmin tidak menghina agama Islam.
Tetapi nyatanya
rekan-rekan sastrawan mereka justru banyak yang kontra dengan karya tersebut. Di
antara para sastrawan tersebut adalah Jusuf Abdullah Puar, Buya Hamka, Wiratmo
Soekito, Moh. Zabidin Jacub SH, Ajib Rosidi, dan Abdul Muis, dan Taufiq Ismail.
Buya Hamka menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, tidak boleh menggambarkan sosok
Tuhan. Hal senada juga ditegaskan oleh Ajib Rosidi dan Taufiq Ismail.
Menurut Ajip,
kebebasan mencipta dengan menggunakan imajinasi mempunyai batasan-batasan dan
tidak sepenuhnya bebas. Dan menurut Taufiq, kebebasan menampilkan Tuhan, Rasul,
dan para Nabi ada batasannya. Batasannya, lanjut Taufiq, adalah adab dan logika
yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Mengarungi
gelombang protes, Darsjaf Rahman selaku Pemimpin Umum majalah Sastra,
akhirnya meminta maaf kepada umat Islam.
Meskipun memaafkan
umat Islam tetap mengingkan agar proses hukum dijalankan, berhubung sudah ada
payung hukum terkait penistaan agama pada waktu itu. Akhirnya pengadilan
memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara 1 tahun dengan masa percobaan 2
tahun. Hukuman yang sama dijatuhkan kepada Ki Panji Kusmin secara in absentia.
Pasalnya identitas asli sang penulis tidak kunjung diketahui.
Penistaan Agama Melalui Aliran Sesat
Selain melalui
karya sastra pelecehan agama melalui ajaran-ajaran sesat juga marak terjadi di
Indonesia. Entah memang berniat menista atau hanya keblinger karena terlalu “pinter”, yang jelas tokoh aliran sesat
ini diputuskan bersalah atau penistaan agama. Tapi yang mengherankan, pengikut
aliran ini banyak dan tidak jarang berasal dari golongan terpelajar.
Ahmad Musadeq
 
Di tahun 2016
berkembang kabar tentang ajaran Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Fakta menarik dari alilran
Gafatar ini ternyata pencetusnya adalah Ahmad Musadeq, orang yang pernah
mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu.
Pada tahun 2006
lalu, Ahmad Musadeq alias Abdussalam mengaku dirinya sebagai nabi setelah nabi
Muhammad SAW, di tahun yang sama ia juga mendirikan sebuah gerakan yang bernama
Al-Qiyadah Al-Islamiyah.
Pada tahun 2007
aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dinyatakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama
Indonesia) setelah menjalani penelitian secara subyektif selama 3 bulan karena
menyimpang dari ajaran Islam dan melakukan sinkretisme agama.
Pada 2008,
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musaddeq 4 tahun penjara dipotong
masa tahanan atas pasal penodaan agama.
Aliran ini
mempercayai bahwa Moshaddeq adalah Masih Al’Mau’ud, Mesias Yang Dijanjikan
untuk ummat penganut ajaran Ibrahim / Abraham meliputi Islam (bani Ismail) dan
Kristen (bani Ishaq), menggantikan Muhammad.
Termasuk di
dalam kalimat syahadat, kata yang menyebutkan Nabi Muhammad juga dihapuskan.
Aliran ini juga belum mewajibkan pengikutnya untuk menjalankan salat lima waktu
dengan alasan kewajiban tersebut belum perlu dilaksanakan kecuali menjelang
hijrah dan setelahnya.
Ahmad Musadeq
kemudian menyatakan bertobat dari aliran sesatnya, namun ia diduga masih
menyebarkan aliran sesatnya dengan mengganti nama aliran Al-Qiyadah
Al-Islamiyah dengan nama Milah Abraham yang berkembang di daerah Depok, Jawa
Barat.

Benar saja
Musadeq kembali exist lewat Gafatar. Gafatar
sendiri telah dilarang di Indonesia setelah Jaksa Agung Muhammad Prasetyo,
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 93 Tahun 2016, Nomor
KEP-043/A/JA/02/2016, dan Nomor 233-865 Tahun 2016 tentang Perintah dan
Peringatan kepada Mantan Pengurus, Mantan Anggota, Pengikut, dan/atau
Simpatisan Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara atau Dalam Bentuk
Lainnya untuk Menghentikan Penyebaran Kegiatan Keagamaan yang Menyimpang dari
Ajaran Pokok Agama Islam. SKB tersebut dikeluarkan pada tanggal 24 Maret.