Saya, HTI dan Kedewasaan Berharakah

Oleh Vida Robi’ah Al-Adawiyah

Ngelmu.id – Akhirnya ikutan juga nulis tentang ini. Tadinya, saya pikir hubungan saya dan HTI biasa-biasa saja. Ternyata kalau saya runut sejarah dan nostalgia masa muda (hayah) , yah HTI termasuk ormas, atau organisasi yang sangat intens mengajak saya bergabung dengan mereka, baik malu-malu maupun terang-terangan sejak di kampus sampai sekarang jadi emak-emak..haha (boleh dong GR).

Justru hingga kini, saya masih terus saja dideketin teman-teman muslimah HTI Solo Raya, lumayanlah berkah ukhuwah.

Jika boleh bernostalgia, saya ini termasuk yang nggak gampang pindah kelain hati dalam urusan loyalitas organisasi. Didekati HMI (Dipo maupun MPO), di rayu PMII, dijawil-jawil KAMMI (dan selalu aja qadarullah batal ikut DM nya wkk), sampai ditarget GMNI wkk (ini sih dulu seniornya nyerah dengan hormat dengan bilang “Nyerah deh ndeketin anak PII, susah dibujuk “ baguslah) .

Alhasil, saya memang akhirnya jadi punya banyak teman, bisa masuk kemana saja, belajar dari semua kawan, jadi ‘dewasa’ menyikapi perbedaan, tapi saya cuma mengakui satu organisasi ekstern yang membentuk saya : Pelajar Islam Indonesia (PII) , belum saya temui training pengkaderan sekomplit dan serapi PII,komplit dengan pemetaan kadernya pasca training.

Lah, basic trainingnya aja tujuh hari, itupun sudah saya ikuti sejak SMA,lanjut semua training PII saya rampungi sampai smester 2.hehe. itu saja alasannya saat itu. hehhe (ngelantur ni temanya)

Alhasil hingga akhirnya semua teman ‘mencium’ pilihan politik saya mengerucut kemana. Bahkan ada yang sangat sarkastis dan sinis mengucap “ Vida sudah terjebak juga di PKS akhirnya” hahaaaha. Kata-kata terjebak bagi saya justru membuat saya punya guyonan “Terjebak dalam cinta dan kebaikan boleh banget laaah” .

Keterjebakan yang indah. Meski bagi saya ini bukan terjebak, karena semua perubahan saya dari penampilan hingga mengerucutnya pilihan ‘kapal dakwah’ saya jalani dengan penuh pemahaman dengan proses yang sangat natural, tentu tidak merubah idealisme. Jadi, clear ya, saya kader PKS akhirnya.

Kembali. Adalah HTI , ormas yang tentu sangat berkebalikan dengan segala visi politik kami di PKS. Meskipun banyak kader-kader HTI adalah ‘jebolan’ lingkaran halaqoh tarbiyah ( piss ya!) tapi saya tidak pernah merasa rikuh dengan mereka.
Bahkan, sampai hari ini pengurus Muslimah HTI Solo Raya masih sering kerumah, memberikan undangan acara-acara mereka, meminta saya hadir, berdiskusi tentang banyak hal.

Bahkan, hal paling ‘menyesakkan’ pernah saya alami di sebuah forum Muslimah HTI yang dengan tulus saya datangi sambil menggendong bayi, dimana ternyata di forum itu sejak saya duduk, hingga di akhir acara, menguliti demokrasi, mencibir kebijakan politik Partai Islam, menyindir kasus Ustadz LHI, menyindir kemenangan Mursyi yang tumbang.

Saya dengan menahan semua gemuruh di dada tetap mengikutinya. Alhamdulillah, saya sempat menyampaikan sebuah statemen di forum itu “Saudari-saudariku HTI, saya adalah salah satu kader dan caleg sebuah partai yang dari sejak acara ini dibuka, hingga sesi tanya jawab ini Anda kuliti yaa (saya sambil guyon), saya hanya datang kemari dengan ketulusan, ingin sekali kita sharing bukan?, jadi maunya teman-teman HTI apa?Peran Politik Muslimah menurut kawan-kawan HTI riilnya seperti apa? Apakah tidak bisa kita bersinergi dan anda memberi masukan pada kami yang di partai politik? (Dsb..lumayan menohok)” forum itupun hening.

Setelah itu saya pulang. Apakah saya marah? Tidak. Saya meninggalkan forum dengan tetap berjabat erat dengan para sahabat yang memang pernah saya kenal disana. Inilah ujian kedewasaan berharakah.

Termasuk salah satu pengurus Muslimah HTI Solo Raya sampai hari ini intens sekali janjian bertemu, mengirimi saya tulisan, seruan, WA tentang khilafah, tentang penolakan mereka terhadap pilkada, tentang ini dan itu.

Dia tau saya ini ikut pemilu, dia paham saya pasti berbeda. Tapi kepercayaan dirinya, juga membuat saya tetap mengapresiasi semua ikhtiarnya memberi wacana. Sah-sah saja bagi seorang kader harakah, menyampaikan apa yang dianggapnya benar, bukan?.

Terakahir dia menshare tentang betapa sulitnya dakwah ini, banyak yang menyerang HTI. Saya hanya menjawabnya “Semua gerakan dakwah akan diuji. Tokoh-tokoh ikhwan juga telah banyak diuji dibalik jeruji.
Tetap bergerak dengan manhaj yang kita yakini, keikhlasan dan khusnudhon kita pada saudara-saudara kita, akan mempertemukan jalan juang, meski berbeda” begitu balasan saya
Dan, ketika hari ini saya mendengar bahwa HTI ‘dibubarkan’ saya dengan sangat spontan membela. Saat tabligh akbar Ustadz Felix Siauw dibubarkan, saya pun miris. Apakah kita yang berbeda akan membuat cibiran? Tuh, rasain belagu sih nggak mau pakai demokrasi. Itu sikap kekanak-kanakan.

Bahwa saya sering menyayangkan HTI yang keukeuh goolput, iya lah (gemes jugalah, piss ya kawan-kawan HTI hihi). Tapi kedewasaan berharakah, kedewasaan berukhuwah, menguji kita saat-saat ini.

Track record HTI di beberapa negara terkait dengan demokrasi, tentu saya paham. Tanggapan HTI tentang semua pemilu dan ‘jihad parlemen’ kami, PKS yang selama ini terekspresikan dengan agak sinis, apakah tidak menerbitkan ‘nyesek’ ? Tentulah, ada. Tapi apa kita akan memelihara bara? Bagi mereka manhaj khilafah mereka, bagi kita jihad politik kita.

Dengan semakin massifnya perlawanan rezim ini pada geliat dakwah Islam, kita tak pernah tau, siapa target berikutnya.

Dan, inilah kita, yang telah dibesarkan dalam banyak interaksi terhadap manhaj dakwah. Inilah kita, umat yang besar yang telah lebih dahulu belajar ‘berbhineka harakah tetapi tunggal aqidah juga’ daripada para pengoar cinta NKRI yang lebih sering mengobarkan api.

Jadi PKS, HTI, SALAFI, JAMAAH TABLIGH, MUHAMMADIYAH, NU , dan semua yang tidak saya sebutkan, belajarlah menjaga ‘tubuh’ kita. Dewasa berharakah, dan terus waspada, karena musuh dakwah ini hanya perlu memecah belah untuk tertawa-tawa. Mari Fokus pada semua agenda umat #savedakwah #solidarity #kitasaudara