Sejarah HTI di Indonesia Hingga Dibubarkan Pemerintah

Ngelmu.id – Pemerintah memutuskan untuk membubarkan organisasi kemasyarakatan
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Senin (8/5). Menurut Menteri Koordinator bidang
Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, keputusan ini diambil untuk menjaga
keamanan dan ketertiban bangsa dengan sejumlah pertimbangan.

“Sebagai ormas berbadan hukum, HTI tidak melaksanakan
peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai
tujuan nasional,” kata Wiranto dalam konferensi pers di kantornya, Jl
Medan Merdeka Barat, Senin (8/5/2017).
Wiranto menyampaikan, sebagai organisasi kemasyarakatan, HTI
tidak melakukan peran positifnya dalam membangun bangsa. Selain itu, kegiatan
HTI juga dinilai terindikasi bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. “Mencermati
berbagai pertimbangan serta menyerap aspirasi masyarakat maka pemerintah perlu
mengambil langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI,” kata Wiranto.
Fakta mencatat ternyata banyak perjalanan HTI di Indonesia. Hizbut
Tahrir adalah sebuah partai politik Islam Ideologis. Politik adalah
aktivitasnya, dan Islam adalah ideologinya. Didirikan oleh al-Imam al-’Allamah
as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada 14 Maret 1953 M.
Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim bin
Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada
kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami
kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.
Awal Masuk ke Indonesia
Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik trans-nasional
(lintas negara). Oleh karenanya hizbut tahrir bergerak dan beraktivitas di
lebih dari 40 negara di 5 benua. Pergerakan hizbut tahrir bergerak dan menyebar
ke seluruh dunia adalah saat kepimpinan amir hizb yang kedua yakni Al-’Alim
al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim bin Yusuf bin Abdul Qadim bin Yunus bin Ibrahim.
Al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum berjumpa dengan
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâh pada tahun 1952. Lalu Syaikh Zallum
pergi ke al-Quds untuk bergabung dengan Syaikh Taqiyuddin dan melakukan kajian
serta berdiskusi seputar masalah partai (Hizb). Beliau telah bergabung dengan
Hizbut Tahrir sejak awal mula aktivitas Hizb. 
Ketika Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâh wafat pada
saat fajar hari Ahad bertepatan dengan tanggal 11 Desember 1977 M, tampuk
kepemimpinan berada pada tangan Al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum.
Beliau mengemban amanah ini dan menjalankannya dari satu dataran tinggi ke
dataran tinggi yang lain. Beliau lantang berdakwah.
Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia adalah saat K.H Abdullah
bin Nuh atau yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Mamak’ mengajak Syaikh
Abdurrahman al Baghdadiy ke Indonesia. K.H Abdullah bin Nuh ‘Mamak’ adalah
seorang ulama, tokoh pendidikan, sastrawan dan pejuang. Pria shalih yang lahir
di Kampung Meron Kaum, Kota Cianjur Jawa Barat pada tanggal 6 Juni 1905 ini,
melalui tabanni pendapat Imam Al-Ghazali, sangat gigih menyerukan agar
masyarakat berpegang teguh pada ajaran atau syariah Islam.
Terlalu Paksakan Khilafah
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ustadz Ismail Yusanto
bahwa dakwah model Hizbut Tahrir memang lambat di awal. Untuk menjadikan
matang, satu halaqah yang biasanya diikuti oleh kurang lebih 5 orang, misalnya,
diperlukan waktu bertahun-tahun. Mengapa waktu yang diperlukan begitu panjang?
Karena kitab atau buku pembinaan yang harus dikaji cukup banyak.
Belum lagi metode pangkajian kitab yang aslinya ditulis
dalam bahasa Arab, yang harus dibaca paragraf demi paragraf, kemudian
dijelaskan isi dan pengertiannya oleh musyrif (pembina halaqah), yang membuat
halaqah memang tidak mungkin diselenggarakan secara kilat. Belum lagi waktu
untuk menjawab tuntas pertanyaan-pertanyaan dari para peserta halaqah.
HTI sudah tak ragu lagi untuk mengusung faham Khilafah yang
sudah jelas bertolak belakang dengan ideologi Pancasila. Meski sudah mendapat
penolkan dimana-mana, namun HTI seolah tak takut berhadapan dengan sejumlah
ormas Islam yang cinta keberagaman, sebut saja, Nahdlatul Ulama (NU). HTI
berusaha mengoyak sendi-sendi Pancasila yang sedari awal digagas oleh para
pendiri bangsa ini dengan bingkai bhinneka tunggal ika.
Karena ditolak dimana-mana, para pendukung HTI sering
melempar isu bahwa sesama umat Islam itu harusnya tidak saling bermusuhan.
Perkara HTI ditolak bukanlah soal dia muslim atau tidak, melainkan soal sikap
bernegara. Wacana di atas hanyalah propaganda untuk menyetop penolakan gerakan
Islam transnasional dimana-mana, sebagaimana marak terjadi akhir-akhir ini.

Akhirnya Dibubarkan 8 Mei 2017
Menkopolhukam Wiranto menggelar konferensi pers mengenai
pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas itu dibubarkan karena dianggap
membahayakan NKRI.”Sebagai ormas berbadan hukum, HTI tidak melaksanakan
peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai
tujuan nasional,” kata Wiranto.
Wiranto menyatakan, kegiatan yang dilaksanakan HTI
terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang
berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas.
“Aktivitas yang dilakukan nyata-nyata telah menimbulkan
benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat,
serta membahayakan keutuhan NKRI,” ujar Wiranto.
“Mencermati berbagai pertimbangan di atas, serta
menyerap aspirasi masyarakat, pemerintah perlu mengambil langkah-Iangkah hukum
secara tegas untuk membubarkan HTI,” katanya lagi.
Wiranto mengatakan keputusan ini diambil bukan berarti
pemerintah anti terhadap ormas Islam, namun semata-mata dalam rangka merawat
dan menjaga keutuhan NKRI yang berdasarkan PancasiIa dan UUD Negara Republik
Indonesia tahun 1945.