Seni Memilih Pemimpin (1) Catatan Pilkada 2017

Oleh Eko Jun

Ngelmu.com – Hari – hari ini adalah masa kritis, di mana DPP Partai Politik akan mengeluarkan rekomendasi kepada para kandidat yang akan maju berlaga di ajang Pilkada 2017. Ada rekomendasi yang disambut dengan positif dan penuh optimisme, ada pula yang direspon dengan negatif dan aura pesimisme.

Kali ini, mari sejenak kita membuka lembaran Sirah Nabawiyah. Bahwa nabi memiliki otoritas mutlak (istilah sekarang, hak prerogatif) untuk menentukan siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin (panglima perang, pemimpin rombongan, ketua delegasi, penguasa kota dan lain-lain), semua sahabat sudah memahaminya. Namun pada beberapa kasus, pilihan nabi juga mengundang kontroversi di kalangan sahabat.

Jika pilihan itu jatuh kepada sosok yang memiliki keutamaan, tentu para sahabat akan bulat menerimanya. Sebagaimana pilihan Nabi kepada Ali bin Abu Thalib ra pada saat perang Khaibar. Paling banter, para sahabat sedikit merasa iri dalam hatinya (dalam konteks yang baik), mengapa bukan dirinya yang jadi pilihan nabi. Namun ternyata, memang ada beberapa pilihan nabi memang sedikit memancing kontroversi.

Di antaranya:

Pertama, Khalid bin Walid

Khalid bin Walid memiliki masa lalu sebagai musuh Islam. Dialah yang secara langsung membuat pasukan Islam kocar-kacir di medan Uhud. Yakni saat melancarkan serangan untuk menguasai bukit yang ditinggalkan pasukan pemanah. Namun, hidayah menyapa dan Khalid bin Walid pun masuk Islam.

Kepemimpinannya mulai bersinar pada perang Mu’tah, yakni saat ketiga jendral yang mendapatkan mandat dari Rasulullah mati syahid. Setelah itu, Rasulullah mulai memberi kepercayaan kepadanya untuk menjabat sebagai panglima perang. Ternyata, Khalid bin Walid bertindak melebihi batas, yakni saat dia tetap menebas musuh padahal sudah mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah pun mengumumkan pengingkaran secara terbuka atas tindakan Khalid tersebut.

Buntut peristiwa itu berlanjut, di mana Khalid bin Walid akhirnya berselisih dengan Abdurrahman bin ‘Auf. Padahal Abdurrahman bin ‘Auf adalah sahabat senior yang memiliki banyak keutamaan, termasuk golongan assabiqun al awwalun dan kelak akan ditetapkan oleh Umar menjadi anggota ahli syura.

Hingga akhirnya, Nabi menasehati Khalid agar tidak mencela Abdurrahman bin ‘Auf, “Laa tasubbuu ahadan min ashaabii, Fainna ahadukum lau anfaqa mitsla uhudin dzahabaa, maa adraka mudda ahadihim, walaa nashiifah”.

Dengan catatan kelamnya di masa lalu saat masih jahiliyah serta kontroversi yang dibuatnya setelah masuk Islam, ternyata Rasulullah masih memberikan kepercayaan sebagai panglima. Pada saat mobilisasi pasukan beikutnya, jabatan sebagai panglima perang kembali dipercayakan kepada Khalid bin Walid. Dan sinar kebintangannya pun semakin lama semakin terang, hingga akhirnya dia dijuluki sebagai “Syaifullah Al Maslul”.

Di antara pelajaran penting bagi kita adalah pemahaman bahwa untuk menjadi baik, seseorang perlu berproses. Kesalahan atau bahkan permusuhan di masa lalu harus dikubur demi kepentingan yang lebih besar. Lapang dada dan husnuzhan harus kita kedepankan ketimbang ego dan dendam pribadi.

Kita tentu mengharapkan datangnya The White Knight yang masa lalunya bersih, namun bukan berarti kita menolak The Dark Knight. Hormati dan dukunglah keinginannya untuk menjadi orang baik serta rasakan perjuangannya yang berat saat memutuskan untuk berhijrah, minal jahiliyah ilal islam, minal ma’shiyyah ilath tha’at.

Apakah mereka akan cepat berubah atau malah lambat beradaptasi, bergantung bagaimana cara kita merespon dan menciptakan pengkondisian. Jika terapinya tepat dan dosisnya pas, sangat mungkin akan menjadi vitamin dosis tinggi baginya untuk meraih prestasi puncak dimasa depan. Sebagaimana halnya dengan kasus yang terjadi pada Khalid bin Walid.

(FR)