Seni Memilih Pemimpin (2) Catatan Pilkada 2017

Oleh Eko Jun

Ngelmu.com – Siapa lagi pemimpin pilihan Rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, pemegang urusan kota dan lain-lain) yang sempat memancing kontroversi di kalangan generasi sahabat?

Kedua, Amr Bin Ash

Sulit memungkiri bahwa Amr bin Ash ra memiliki kapasitas sebagai diplomat ulung dan ahli strategi yang jenius. Sejarah membuktikan kiprahnya, baik sebelum maupun sesudah masuk Islam.

Sebelum masuk Islam, dia menjadi salah satu dari dua orang yang diutus suku Quraisy untuk membujuk Kaisar An Najasy agar mengembalikan (istilah sekarang, mendeportasi) pengikut Nabi Muhammad yang berhijrah (istilah sekarang, mencari perlindungan dan suaka politik) ke Habasyah. Posisi ini saja sudah menunjukkan siapa Amr bin Ash, karena utusan suatu kaum pastilah orang terpandang, terpercaya sekaligus ahli strategi dan negosiator hebat yang dimiliki oleh kaum tersebut.

Setelah masuk Islam, dia juga membuktikan kapasitasnya. Di bawah komandonya, Mesir berhasil ditaklukkan di era kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra. Dia sekaligus diangkat menjadi gubernur Mesir oleh Umar.

Pada peristiwa perang Shiffin, dia pula yang mengusulkan agar pasukan Mu’awiyah mengangkat Al Qur’an dengan tombaknya, sebagai seruan untuk bertahkim. Sehingga pasukan Ali yang sudah di atas angin akhirnya goncang dan terpecah. Selanjutnya, kita sudah sama – sama tahu bagaimana ceritanya.

Meski rekam jejak kurang bersahabat terhadap dakwah Islam, namun Rasulullah tetap mengakui bakat dan kapasitasnya. Meski Amru bin Ash belum lama masuk Islam, Rasulullah justru memberinya tugas sebagai ketua regu dalam ekspedisi militer ke Dzatus Salasil.

Padahal di dalam pasukan yang dipimpinnya itu, ada sosok yang sangat utama yakni Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar dan Umar sendiri pernah diposisikan sebagai komandan dalam ekspedisi militer sebelumnya. Sudah mulai terbayang situasinya kan? Ada jenderal senior yang menjadi prajurit biasa, sedang pemimpinnya adalah kopral kemarin sore dengan rekam jejak yang belum banyak diketahui.

Jika kondisi yang sama terjadi di masa sekarang (meski dengan konteks yang berbeda), kira – kira gejolak seperti apa yang ditimbulkannya?

Sudah begitu, Amr bin Ash juga melakukan ijtihad yang agak nyeleneh, baik untuk urusan pribadi maupun pasukannya. Kala itu udaranya sangat dingin, namun Amr bin Ash justru memerintahkan pasukannya agar mematikan api yang digunakan untuk menghangatkan badan.

Spontan Umar mengadukan hal itu kepada Abu Bakar, namun ditenangkan dan diingatkan bahwa “Rasulullah memerintahkan kita taat kepada Amr bin Ash yang diangkat sebagai komandan”. Saat dikonfirmasi, Amr bin Ash menjelaskan bahwa ia takut pergerakan pasukannya terdeteksi oleh musuh jika mereka menyalakan api.

Lalu pada saat tim ekspedisi militer dalam perjalanan kembali ke Madinah, rupanya Amr bin Ash mimpi basah. Namun dia mencukupkan diri dengan bertayamum dan tidak mandi junub, dengan alasan udara yang sangat dingin. Dia segera masuk ke barisan untuk melaksanakan shalat berjama’ah.

Harus kita pahami bahwa semangat reliji para sahabat itu sangat tinggi. Melihat ijtihad pribadi yang aneh dari komandan perang yang belum lama masuk Islam, tentu saja menyulut kegoncangan. Meski demikian, ternyata Rasulullah menerima ijtihad pribadinya Amr bin Ash.

Pelajarannya cukup berat untuk kita renungkan. Mungkin ada ketua yang usianya masih muda, ilmunya tidak seberapa, lalu membuat keputusan dan kebijakan yang runyam, baik dalam urusan pribadi maupun jama’ahnya.

Termasuk keputusan dalam urusan berkoalisi dengan partai mana atau mendukung kandidat tertentu dalam ajang perhelatan pilkada. Apa yang akan kita lakukan? Apakah akan tetap sam’an wa tha’atan atau malah ber-mufaraqah ria secara berjama’ah?

Melihat kasus yang ada, pilihan untuk taat kepada pemimpin tetap menjadi pilihan yang terbaik, lepas dari hasilnya kalah atau menang. Kesatuan dan soliditas jama’ah tetap menjadi barang mahal yang akan diperhitungkan oleh kawan dan lawan (baca, mitra koalisi dan lawan politik), baik di masa sekarang maupun mendatang. Sedikit riak tentu saja ditoleransi sebagai bagian dari dinamika berjama’ah, namun jangan sampai kita menjadi orang yang membuka pintu fitnah dan perpecahan di tengah situasi kritis.

Belajarlah kepada Abu Bakar yang memilih untuk taat meski kedudukan dan keutamaannya jauh melebihi komandan yang memimpinnya saat itu. Belajarlah kepada Umar yang memilih untuk menghentikan gejolak pribadinya, meski kapasitas ijtihadnya jauh di atas ketua regunya. Mari kita belajar kepada mereka, generasi terbaik yang telah dipilih Allah untuk menemani Rasulullah berdakwah dan berjuang menegakkan Islam.

(FR)