Seni Memilih Pemimpin (3) Catatan Pilkada 2017

Ngelmu.com – Siapakah pemimpin pilihan Rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin rombongan, penguasa kota dan lain-lain) yang pernah menimbulkan kontroversi? Mungkin seseorang yang tidak sobat duga, yakni:

Ketiga, Ali bin Abu Thalib

Foto: awyimam.blogspot.com

Mengalir dalam diri Ali bin Abu Thalib darah pejuang dan pendekar sejati. Sejak kecil, beliau memberikan pembelaan kepada Muhammad, pamannya. Sepanjang kisah hidupnya, tidak pernah sekalipun kita mendapati Ali bin Abu Thalib kalah berduel melawan jawara pihak musuh di medan laga. Sejak perang badar hingga perang shiffin. Tidak pernah beliau absen dalam setiap pertempuran, kecuali pada saat perang tabuk.

Betul, kala itu Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk “berdiam” di Madinah dan mengurusi kaum muslimin. Ali begitu kecewa dengan tugas ini, hingga beliau berkata “Ya Rasulullah, mengapa engkau meninggalkanku di sini bersama wanita dan anak – anak?”. Dengan bijaksana, Rasulullah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu di sisiku seperti Harun di samping Musa. Hanya saja tidak ada lagi nabi sesudahku”.

Ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita renungkan, di antaranya:

Pertama, Unjuk Kontribusi

Perang tabuk dilakukan dalam situasi sulit. Suhu udara sangat panas, tanaman mulai berbuah, jaraknya sangat jauh dan situasi ekonomi sedang krisis. Karena itu, persiapan menjelang perang tabuk menjadi sarana unjuk kontribusi para sahabat. Mulai dari Utsman bin Affan yang menyumbang sangat besar, hingga para faqir miskin yang sampai menangis karena tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan.

Di sini kita memahami betapa kecewanya Ali saat diperintahkan untuk tinggal di Madinah. Selama ini sahabat yang sering dipasrahi kota Madinah selama Rasulullah berjihad adalah Abdullah bin Umi Maktum, yang usianya sudah tua dan matanya buta.

Sedang Ali, bahkan dalam kondisi sakit pun tetap ikut maju berperang sebagaimana yang terjadi saat perang Khaibar. Semangatnya pasti menggebu – gebu untuk ikut berkontribusi dalam perang tabuk. Namun, dia memilih untuk taat dan menjalankan tugas dari baginda Nabi.

Boleh jadi, kita memiliki banyak keunggulan dan ingin berkontribusi dalam arena pemilu dan pilkada. Namun, qiyadah malah memutuskan untuk “menyimpan” potensi kita sehingga tidak ikut berlaga menjadi kandidat caleg atau kepala daerah.

Tidak perlu kecewa, berkecil hati, ber-mufaraqah ria atau menghimpun kekuatan untuk melakukan bughat. Karena Ali bin Abu Thalib yang jauh lebih baik dari kita juga pernah mendapatkan tugas yang sama. Mari kita ucapkan kalimat yang bernada positif “Berjuanglah dengan optimal di sana. Urusan di sini, biar kami yang menangani”.

Kedua, Kiprah Penjaga Gawang

Dalam permainan sepakbola, bintangnya selalu striker. Mereka bisa berbuat banyak kesalahan, namun tetap dipuja. Lain dengan penjaga gawang, sekali berbuat kesalahan gawangnya bisa kebobolan.

Ali diibaratkan sebagai nabi Harun di sisi Musa. Maksudnya, Nabi Harun memang dipasrahi urusan Bani Israil kala Musa bermunajat di bukit Thursina selama 40 hari. Saat itu, ada Samiri yang menyesatkan Bani Israil dengan membuat patung lembu dari emas yang bisa bersuara. Karena tidak ingin kaumnya semakin terpecah, Nabi Harun tidak banyak bertindak untuk mengatasi hal itu. Bisa dibilang, Nabi Harun kurang sukses melaksanakan amanah dari Nabi Musa.

Mungkin karena situasinya juga rumit, maka Rasulullah lebih memilih Ali bin Abu Thalib ketimbang Abdullah bin Umi Maktum untuk menjadi penjaga gawang di Madinah. Saat itu pergerakan kaum munafik sudah sangat keras, mulai dari memprovokasi kaum muslimin untuk memboikot seruan jihad, membuat makar di rumah orang yahudi hingga mendirikan masjid dhirar.

Sedangkan mobilisasi perang tabuk memberangkatkan lebih dari 30 ribu sahabat ahli jihad. Situasi kritis seperti ini jelas tidak bisa dipasrahkan pada Abdullah bin Umi Maktum. Dan ternyata, Ali bin Abu Thalib mampu menjaga Madinah dari makar kaum munafik sehingga suasananya tetap kondusif.

Bisa dibilang, Ali bin Abu Thalib sukses melaksanakan amanah dari Nabi Muhammad SAW.
Mungkin kita agak bingung juga, mengapa Rasulullah sering memasrahkan urusan kota Madinah kepada Abdulah bin Umi Maktum. Bukankah dia itu sudah tua, renta dan buta?

Bisa jadi karena situasi Madinah cukup aman, sehingga Abdullah bin Umi Maktum sekalipun bisa mengurusinya. Bisa jadi karena Abdullah bin Umi Maktum memiliki tempat istimewa di hati Rasulullah sehingga diberi tugas itu. Harus kita pahami, semenjak turun surat ‘Abasa, Rasulullah memang memperlakukan Abdullah bin Umi Maktum dengan sangat mulia. Namun yang pasti, situasi demikian tidak terjadi jelang perang tabuk. Sehingga Madinah dipasrahkan kepada prajurit pilihan dan panglima besar, bukan lagi kepada sosok yang tua dan lemah.

Jika dengan segala potensi besar yang kita miliki (kapasitas, integritas dan isi tas) ternyata kita hanya ditugasi qiyadah sebagai “penjaga gawang” dalam arena pilkada, tidak usah berkecil hati. Di sana juga banyak tugas mulia yang bisa dilakukan. Mulai dari upaya pelemahan, perang pemikiran hingga provokasi, baik dari pihak internal maupun eksternal.

Mari kita ikuti kisah sukses Ali bin Abu Thalib menjaga Madinah. Sadarilah, tidak semua harus menjadi striker, tidak semua harus maju menjadi kandidat kepala daerah.

Demikian pula dengan posisi kita sebagai anggota jama’ah. Tidak perlu menambah kerumitan dengan menggalang kekuatan, baik untuk menentang keputusan qiyadah maupun memunculkan calon lain yang akan memecah kekuatan. Mungkin karena kita melihat banyak sosok seperti Ali bin Abu Thalib yang semestinya bisa berlaga tapi malah disimpan sebagai penjaga gawang.

Ada banyak PR yang perlu dikerjakan, ada banyak tugas yang harus ditangani. Jika satu pos sudah ada prajurit yang ditugasi, mari beralih mencari pos lain yang masih kosong.

Ketiga, Rotasi Pemain

Agar bisa menjadi pemimpin yang baik, seorang bos harus berangkat dari bawah. Dia merasakan dan memahami dinamika kerja bawahannya. Sehingga saat berada dipuncak, dia sangat menguasai masalah, mampu memberikan arahan yang baik serta tidak bisa dibohongi dengan laporan Asal Bapak Senang (ABS). Karena itu, seorang prajurit yang dikaryakan dibanyak tempat pada dasarnya sedang dibina agar menguasai banyak masalah.

Ali bin Abu Thalib jelas akrab dengan kuda dan pedang. Dengan tugas ini, mungkin Ali bin Abu Thalib juga tengah dibina agar memahami kondisi wanita, anak – anak, kaum mustadh’afin dan kaum munafik yang tengah ditinggal di Madinah. Sebagai bekal masa kepemimpinannya kelak yang penuh dengan fitnah, intrik dan gejolak.

Sebagai sosok yang memimpin di masa konflik, Ali bin Abu Thalib sebenarnya cukup berhasil. Dia berhasil menjaga keadilannya, berhasil merumuskan ilmu – ilmu baru dan bahkan hampir berhasil mengalahkan musuh. Andai bukan karena manuver kaum khawarij yang menentang peristiwa tahkim.

Boleh jadi, kita sering diberi tugas dari qiyadah yang kurang sesuai dengan bakat dan minat. Kita merasa kurang optimal, kurang nyaman, energi dan potensi kurang tersalurkan dan lain-lain.

Pahamilah, kadang itu terjadi juga karena kebutuhan di lapangan. Qiyadah pun tahu kita akan lebih optimal di tempat lain, tapi ada beberapa potensi kita yang sangat dibutuhkan diposisi itu dan tidak dimiliki oleh kader lainnya. Dalam situasi kritis, mau tidak mau prajurit hebat seperti Ali sekalipun akan ditugasi menjadi penjaga gawang, bukan striker.

Mari kita nikmati peran itu sebagai sarana pembelajaran sekaligus terapi atas kejenuhan terhadap rutinitas yang monoton.

(FR)