Seperti Takdir, Dua “Pasangan” Ini Kembali Dipertemukan

www.kicker.de

Ngelmu.com, Depok – Jika membicarakan Derby Manchester musim ini yang akan diselenggarakan, Sabtu (10/9) malam esok. Saya sedikit ingin mengibaratkan pertemuan kedua tim dengan romansa percintaan. Jika kalian pernah membaca buku bertema cinta, film, ataupun bahkan kalian pernah merasakannya sendiri dalam pengalaman pribadi kalian.

 Pastinya kalian akan menemukan suatu cerita yang dimana ada sepasang kekasih yang dulunya pernah saling mencintai. Namun dengan semakin berjalannya waktu, pasangan kekasih itu menemukan sifat diantara mereka yang tidak disukai, lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan kisah romansa mereka.

Timbulah rasa sakit hati bahkan dendam yang menyelimuti salah satu dari mereka. Namun mereka tidak larut dalam kesedihan, dan menemukan dambaan hati lainnya. Seakan sebuah takdir, mereka kembali bertemu dengan pasangan kekasih baru mereka masing-masing dalam sebuah hajatan besar bernama, Derby Manchester.

Seperti yang saya utarakan diatas. Pertemuan Manchester United kontra Manchester City seperti mantan kekasih yang dipertemukan kembali. Zlatan Ibrahimovic dengan Pep Guaardiola dan Jose Mourinho yang akan bertemu mantan anak asuhnya di Chelsea, Kevin De Bruyne.

Zlatan vs Pep

Mungkin sepanjang karir Zlatan Ibrahimovic sebagai pemain profesional, bisa dibilang pada saat memperkuat Barcelona musim 2009/10 lah yang paling suram. Kala itu Ibra di boyong oleh Pep Guardiola pelatih Barcelona saat itu dari FC Internazionale Milan. Sempat diramalkan akan bersinar bersama EL Blaugrana, Ibra malah diluar dugaan, hanya bertahan selama satu musim saja berseragam biru merah Barcelona.

Praktis Lord Ibra hanya memainkan 29 laga dan mencetak 16 gol. Perolehan laga dan gol Ibra ini adalah yang paling sedikit dalam masa permanen sebagai pemain suatu klub besar, dibandingkan perolehannya di tiga kompetisi besar Eropa lainnya.

Ajax: 74 Pertandingan, 35 gol
Juventus:69 Pertandingan, 23 gol
Inter Milan:88 Pertandingan, 57 gol
Barcelona:29 pertandingan, 16 gol
AC Milan (permanen): 32 pertandingan, 28 gol
PSG: 122 Pertandingan, 113 gol

Sumber:Wikipedia

Diboyong dengan nilai yang cukup fantastis dari Inter senilai, 57 juta Euro plus transfer Samuel Eto’o yang pindah ke Inter Milan di tahun yang sama, Ibra dinilai gagal memenuhi ekspektasi publik Camp Nou saat itu. Namun bukan semata-mata menurunnya performa sang dewa karena kesalahan ia semata. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi anjloknya prestasi Ibra bersama Barcelona.

Faktor yang pertama sungguh jelas adalah, ketidak harmonisan hubungan Ibra dengan Pep Gaurdiola. Pep Guardiola yang memang pada saat itu lebih senang bermain dengan formasi 4-3-3, memang pada awal kedatangan Ibra, Pep kerap meletakan pemain berpostur 195cm itu di posisi Centre Forward atau penyerang tengah.

Akan tetapi pada saat yang sama pula, ada sosok Lionel Messi yang merupakan anak emas dari Pep Guardiola. Seakan seperti tebang pilih, Messi yang saat itu dengan terang-terangan meminta kepada pelatihnya untuk bermain di tengah posisi dimana Ibra bermain. Namun dalam beberapa pertandingan posisi Ibra tidak diusik, akan tetapi ia mulai merasa terusik dengan kehadiran Messi.

Pasalnya Pep mengganti taktik formasinya dari 4-3-3 menjadi 4-5-1. Memang Ibra tetap menjadi ujung tombak Barcelona, akan tetapi diletakannya Ibra di posisi striker terdepan, tak lebih hanya untuk pengacau pertahanan lawan, dan mempersilahkan Messi untuk leluasa menjebol gawang lawan.

Hal itulah yang dituliskannya di dalam bukunya yang berjudul I’m Zlatan. Hal itulah yang menjadi klimaks hubungan Pep dan Ibra yang tidak harmonis. Semenjak dari kejadian itu, ia memutuskan untuk bernegosiasi dengan sang pelatih tentang kejelasannya di Barcelona.

Bahkan kekesalan Ibra sempat memuncak ketika dirinya dan Barcelona harus rela disingkirkan oleh mantan klubya, Inter Milan di Semi Final Liga Champions musim 2010 lalu, ia pernah mengatakan kata kasar ketika diruang ganti Barcelona.

“Guardiola menatap saya dan saya tak menghiraukan itu. Saya berpikir bahwa ia adalah musuh saya, dan saya ingin menggaruk kepalanya yang botak. Anda bisa pergi ke neraka! Aku benar-benar tidak peduli, dan anda mungkin akan mengharapkan jika Guardiola berbicara dan menanggapi saya, tetapi dia seperti pengecut tak bertulang,” ujar Ibra seperti yang dikutip SkySports.

Sebelumnya memang keduanya sudah pernah bertemu ketika Ibra memperkuat PSG dan Pep melatih Bayern Munchen, tetapi yang membuat berbeda pertemuan keduanya besok adalah. Selain ini akan menjadi pertemuan pertama mereka di Liga Primer, perjumpaan mereka akan lebih spesial karena berlabel Derby Manchester.

www.mirror.co.uk

Mou vs Bruyne

Mourinho yang memang terkenal tidak pernah ragu membuang pemain yang dimatanya tidak dibutuhkan di dalam tim, meskipun pemain itu adalah pemain berlabel bintang, akan kembali bertemu dengan mantan anak asuhnya di Chelsea, Kevin De Bruyne.

Meski pada saat disia-siakan Mou De Bruyne belumlah menjadi pemain yang performanya segemilang sekarang. Cerita pria asal Belgia ini sama tapi beda dengan cerita yang ditorehkan Paul Pogba bersama Manchester United. Jika saat itu Pogba disia-siakan MU dan merasa menyesal karena bersama Juventus ia berhasil menjadi pemain penting di lini tengah Juve, lalu memutuskan kembali ke MU dengan nilai transfer fantastis.

Berbeda cerita dengan De Bruyne. De Bruyne disia-siakan Mourinho ketika masih berseragam Chelsea pada durasi musim 2012/14. De Bruyne yang saat itu masih berusia 20 tahun hanya bermain 3 kali selama dua musim di Chelsea. Sempat di pinjamkan ke Werder Bremen, namun ia tetap tidak memilki kesempatan bermain ketika kembali ke Stamford Bridge.

Seperti yang dilakukan Pogba, De Bruyne pun mencoba peruntungannya di negara lain. Satu klub yang berhasil menemukan bakat sesungguhnya dari seorang Kevin De Bruyne adalah klub Bundesliga,VFL Wolfsburg. Bersama “The Wolfs” karir De Bruyne menanjak drastis, dari musim 2014/2015 pria 25 tahun berhasil bermain apik dan menjadi kreator serangan klub yang berseragam hijau itu dari lini tengah.

Tak hanya disitu ia juga terpilih sebagai pemain terbaik Bundesliga di musim yang sama. Bruyne berhasil memainkan 51 laga dan mencetak 13 gol selama satu musim membela panji Wolfsburg. Berhasil bermain cemerlang, tahun 2015 pelatih Manchester City saat itu, Manuel Pellegrini memboyongnya menuju Manchester. Meski harus melewatkan laga-laga awalnya bersama City karena cedera. Namun pasca sembuh, ia terus menunjukan performa menanjak dan kini menjadi andalan lini tengah “The Citizens”.

Sabtu besok Mou dan Bruyne akan kembali bersua untuk pertama kalinya dalam tajuk Derby Manchester. Mou yang saat ini sudah memiliki “kekasih hati” baru bernama Zlatan Ibrahimovic, akan bertemu De Bruyne yang notabene adalah mantan anak asuh Mou, yang kini sudah memiliki sandaran hati bernama Pep Guardiola. Diprediksi pertandingan besok akan berjalan menarik dengan bertaburnya bintang-bintan di skuat kedua klub.