Shalat Di Atas Kendaraan, Bolehkah?

Oleh Farid Nu’man Hasan

Ngelmu.id – Muslim yang sedang dalam perjalanan sering dihadapkan pilihan untuk mengerjakan shalat di kendaraan (mobil dan kapal). Lalu timbul pertanyaan ke mana arah kiblatnya dan bagaimana jika arah kiblatnya berubah karena gerakan kendaraan?

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح الصلاة في السفينة والقاطرة والطائرة بدون كراهية حسبما تيسر للمصلي.
فعن ابن عمر قال: سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن الصلاة في السفينة؟ قال: (صل فيها قائما إلا أن تخاف الغرق) رواه الدار قطني والحاكم على شرط الشيخين، وعن عبد الله بن أبي عتبة قال: صحبت جابر بن عبد الله وأبا سعيد الخدري وأبا هريرة في سفينة فصلوا قياما في جماعة، أمهم بعضهم وهم يقدرون على الجد، رواه سعيد بن منصور.

“Shalat di kapal laut, kereta, dan pesawat, adalah sah tanpa dimakruhkan sama sekali, jika memang itu yang mungkin dilakukan. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang shalat di kapal laut. Dia menjawab: “Shalatlah di dalamnya dengan berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Hakim sesuai syarat Bukhari-Muslim. [1]

Dan dari Abdullah bin Abi Utbah, dia berkata: “Aku pernah menemani Jabir bin Abdullah, Abu Said al Khudri, dan Abu Hurairah di dalam apal laut. Mereka shalat sambil berdiri secara berjamaah dengan diimamai salah seorang dari mereka, padahal mereka masih ada peluang shalat dipantai.” (HR. Said bin Manshur).” [2]

Kebolehan shalat di kendaraan ini dipertegas lagi oleh perbuatan para salaf, baik kalangan sahabat dan murid-murid mereka, baik duduk atau berdiri, seperti yang diriwayatkan sebagai berikut:

عن مجاهد قال كنا نغزو مع جنادة بن أبي أميه البحر فكنا نصلي في السفينة قعودا.
Dari Mujahid, dia berkata: “Kami perang bersama Junadah bin Abu Umayyah di lautan, maka kami shalat di kapal laut sambil duduk.”

أن ابن سيرين قال خرجت مع أنس إلى بني سيرين في سفينة عظيمة قال فأمنا فصلى بنا فيها جلوسا ركعتين ثم صلى بنا ركعتين أخراوين.

Bahwa Ibnu Sirin berkata: “Aku keluar bersama Anas menuju Bani Sirin dengan kapal besar, dia mengimami kami dan shalat dengan kami di dalamnya dengan cara duduk dua rakaat, kemudian shalat lagi dua raka’at lainnya.”

عن أبي قلابة أنه كان لا يرى بأسا بالصلاة في اسفينة جابسا. حدثنا وكيع عن أبي خزيمة وطاوس قال صل قاعدا.

Dari Abu Qilabah bahwa dia memandang tidak masalah shalat di kapal sambil duduk. Telah bercerita kepada kami Waki’, dari Abu Khuzaimah dan Thawus, dia berkata: Shalatlah dengan cara duduk!

عن ابن سيرين أنه قال في الصلاة في السفينة إن شئت قائما وأن شئت قاعدا والقيام أفضل.

Dari Ibnu Sirin, bahwa dia berkata tentang shalat di kapal laut: “Jika kau mau duduklah, namun berdiri lebih utama.” [3]

Sebenarnya masih sangat banyak keterangan dari sahabat dan tabi’in tentang shalat di dalam kendaraan, baik duduk atau berdiri. Jika dalam kondisi takut tenggelam (mungkin karena ombak yang besar), mereka memilih duduk, jika keadaan normal mereka memilih berdiri.

Shalat dalam kondisi tidak mengetahui kiblat secara pasti

Menghadap Kiblat adalah syarat sahnya  shalat. Namun, ada beberapa kondisi membuatnya bisa gugur, misal ketika di kendaraan atau dalam kondisi sama sekali tidak mengetahui arah kiblat, maka dia boleh menghadap ke arah yang dia yakini. Jika setelah shalat barulah dia tahu arah kiblat, maka shalatnya tetap sah, dia tidak wajib mengulang shalatnya. Inilah pendapat yang kuat.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Ijtihad para ulama dalam masalah hukum itu seperti ijtihadnya orang yang menentukan arah kiblat. Empat orang melaksanakan shalat dan masing-masing orang menghadap ke arah yang berbeda dengan lainnya dan masing-masing meyakini bahwa kiblat ada di arah mereka. Maka shalat keempat orang itu benar adanya, sedangkan shalat yang tepat menghadap kiblat, dialah yang mendapat dua pahala.” [4]

Sedangkan jika mengetahui kiblatnya adalah ketika ‘pas’ shalat, maka dibolehkan mengubah arahnya saat itu juga, tanpa harus memutuskan shalatnya.

Hal ini berdasarkan  dalil  berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ
بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبَلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

Dari Abdullah bin Umar, bahwa dia berkata: “Ketika kaum muslimin berada di Quba, pada saat shalat shubuh, datanglah kepada mereka secara tiba-tiba dan berkata: ‘Sesungguhnya, semalam telah turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wahyu yang memerintahkan agar menghadap kiblat ke ka’bah.maka, menghadaplah kalian ke sana.’ Maka mereka menghadapkan wajah mereka ke Syam. Setelah itu mereka mereka pun berputar ke arah Ka’bah.”[5]

Ke mana Arah Kiblatnya?

Sedangkan jika shalat di atas kendaraan, maka arah kiblatnya adalah mengikuti arah kendaraannya. Hal ini berdasarkan dalil berikut:

Dari Amir bin Rabi’ah dia berkata:

 رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ

“Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di atas kendaraannya dan ia menghadap mengikuti arah kendaraannya.”[6]

Dalam hadits lain:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَهُوَ مُقْبِلٌ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ قَالَ وَفِيهِ نَزَلَتْ{ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ }

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penah shalat dari Mekkah menuju Madinah, dan dia menghadap mengikuti ke mana saja arah kendaraannya. Saat itu turunlah ayat: Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah … (QS. Al Baqarah (2): 115).”[7]

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

وعن إبراهيم النخعي قال: كانوا يصلون في رحالهم ودوابهم حيثما توجهت، وقال ابن حزم: وهذه حكاية عن الصحابة والتابعين، عموما في الحضر والسفر.

Dari Ibrahim An Nakha’i, dia berkata: “Mereka shalat dikendaran mereka dan mengikuti arah kendaraan tersebut.” Berkata Ibnu Hazm: “Yang demikian ini diceritakan dari para sahabat dan tabi’in secara umum baik bermukim atau bepergian …”. [8]

Wallahu A’lam

Catatan:

[1] Yang benar adalah sesuai syarat Muslim saja, lihat Mustadrak-nya Al Hakim Juz. 3, Hal. 25. No. 969. Ad Daruquthni, Juz. 4, Hal. 139, No. 1491.  Al Baihaqi, Ma’rifatus Sunan,  Juz.4, hal. 495. No. 1667. pen
[2] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz.1, Hal. 292.
[3] Lihat semua dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Juz. 2, Hal. 168.
[4] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’  Fatawa, Juz, 20, hal. 224
[5] HR. Muttafaq ‘Alaih
[6] HR. Muttafaq ‘Alaih
[7] HR. Muslim,  No. 1311.
[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 130. Lihat juga Al Muhalla-nya Imam Ibnu Hazm, Juz. 3, Hal. 58.