Show Down At Balai Kota

Oleh: Zeng Wei Jian
BEBERAPA hari ini, medsos meriah foto-foto Balai Kota. Ada
balon-balon. Karangan bunga, sebagian besar rusak. Mirip sampah. Ada ibu-ibu
berpose di pinggir air mancur. Anak-anak kecil riang. Saya sampai heran, ini
balai kota, dufan atau disneyland. Saya ajak Lieus Sungkharisma ke Balai Kota.
Dia tanya mau ngapain. Saya jawab, lihat balon.
Sekitar jam 4 sore, Senin 08 Mei 2017, kita tiba di sekitar
Monas. Barisan standing flower tampak. Semuanya koyak. Pemandangan jadi nggak
sedap. Di depan gerbang Balai Kota, ada empat pemuda. Dekil, berseragam
kotak-kotak merah. Ada logo “Projo” di dada kanan mereka.
Benar aja, taman Balai Kota penuh standing flower. Buntelan
balon-balon merah putih bertebaran. Anak-anak kecil, remaja, ibu-ibu, preman
ambon, ahoker kotak-kotak, encim-encim cina pada selfie. Riang gembira. Seakan
merayakan tumbangnya Ahok-DJarot. Benar, suasananya mirip taman hiburan. Kesakralan
kantor gubernur hilang. Didominasi canda tawa. Prinsen park kalah seru.
Sederet pengantri tampak di teras kantor gubernur. Ahok kasi
chance selfie, per 20 ahoker. Saya tanya sudah berapa lama mereka antri. Ada
yang jawab 2 jam. Lima orang perempuan ngemper di lantai. Mungkin mereka lelah.
Ada ibu dari Papua, Medan, Tangerang. Mereka datang khusus ingin selfie dengan
sang pujaan: AHOK.
Menurut seorang ahoker, acara antri selfie bisa sampai jam 7
malam. Saya heran, Ahok kapan kerjanya. Secara de jure, Ahok masih Gubernur
DKI. Sekalipun secara de facto dan moral politik dia sudah selesai. Katanya,
dia masih berencana pengen gusur Kampung Aquarium lagi. Tiba-tiba ada pemuda
cina tanya kenapa Lieus anti Ahok.
Lieus kasih penjelasan. Samar-samar saya dengar dia cerita
soal kasus Sumber Waras. Saya sibuk cari gambar. Jadi nggak terlalu dengar apa
yang dikatakan Lieus. Muka beberapa ahoker mulai tegang. Mungkin mereka kesal
dengar omongan Lieus. Semakin lama semakin skut. Pamdal dan preman satu per
satu berdatangan.
Edan Lieus. Dia masih mengecam Ahok tepat di depan
kantornya. Di tengah ratusan ahoker yang sedang patah hati. Mereka pasti deg-degan,
besok vonis Ahok di pengadilan. Si pemuda minta selfie. Saya bikin simbol tiga
jari. Lieus bilang ke Ahoker itu, “Jangan mau kalah loe. Pake salam dua
jari donk.”
Jadi lengkap. Lieus di tengah. Diapit salam dua hari di kiri
dan pro Anies di kanan. Semua orang sudah sadar, ada Lieus di Balai Kota. Dua
orang polisi sudah merapat. Saya ajak Lieus pindah lokasi. Tapi dia asik layani
ahoker bincang-bincang dan selfie.
Baru beberapa langkah di luar teras, seorang preman Flores
berkata dengan nada tinggi. Lieus disarankan meninggalkan Balai Kota. Nadanya
kasar. Antrian ahoker di teras serempak riuh. Ada yang teriak usir, usir…!!!
Mendengar ini, Lieus balik badan. Dia kembali masuk teras.
Saling ngotot antara Lieus, preman Ahoker, pamdal dan polisi pecah. Ahoker lain
rame-rame merekam show down via ponsel. Lieus marah. Ada Ahoker bilang begini:
Mau ngapain ke sini. Apa masih blom puas. Kan udah menang. Ahok udah kalah.
Sontak saya sadar. Mereka merasa Lieus dan saya sedang
meledek duka nestapa mereka. Pastinya mereka sedang galau berat. Ahok kalah dua
digit. Padahal didukung taipan dan kekuasaan. Eep Saefulloh Fatah bilang Istana
jadi posko pemenangan Ahok. Tetep aja, tumbang 16 persen.
Ini sama aja kita masuk kandang macan. Sena’as bila Ahok
berani masuk Luar Batang. Seorang diri, tanpa pengawalan. Keributan ini menarik
perhatian. Para wartawan berebut interview Lieus. Ahoker berteriak,
“Sudahlah. Jangan banyak omong kao. Apa masih kurang kerusakan yang kalian
buat untuk Ahok.”
Saya ngakak. Ahoker-Ahoker ini galak banget. Muka-muka
mereka seakan siyap menggigit Lieus.
Detik.com merilis berita ini. Lieus dikatakan diusir ahoker
karena nyerobot antrian. Padahal, siapa yang kerajinan antri sampe dua jam
hanya untuk selfie dengan gubernur kalah. Jelas bukan kita berdua. Ada-ada aja
media mainstream sekarang. Lieus menolak pergi. Dia malah duduk di kursi.
Pamdal dan polisi berusaha membujuk. Alasan mereka, suasana tidak kondusif.
Caci-maki, sumpah serapah dan “boooo” terus
terdengar. Keluar dari mulut Ahoker. Kami ketawa-ketawa aja. Lieus baru sepakat
pergi setelah saya ingatkan soal waktu. Kita ada janji ketemu dengan Syahganda
Nainggolan di sekitar Menteng.
Alas, Balai Kota sepenuhnya diokupasi Ahoker. Saya merasa
jadi nggak memiliki Kantor Gubernur yang seharusnya jadi milik bersama.
Sepanjang jalan, tak habis-habisnya kita terbahak. Mengupas
perilaku Ahoker. Mereka marah, ngamuk, kalap, sanggar. Saya sampe bertanya,
“Kalo tadi sempat digigit salah seorang dari mereka, kira-kira, kita bisa
kena rabies ngga ya?”

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi
(KomTak)