Siapa Musuhmu Siapa Saudaramu

Oleh Prof Achmad Satori Ismail

Ngelmu.com – Kita tentu pernah membaca kisah ini, surat dari Kaisar Romawi kepada Mu’awiyah: “Kami mengetahui apa yang
terjadi antara kalian dengan Ali bin Abi Tholib, dan menurut kami,
kalian-lah yang lebih berhak menjadi khalifah dibanding dia (Ali bin Abi
Thalib). Kalau kamu mau, akan kami kirimkan pasukan untuk membawakan
kepala Ali bin Abi Thalib kepadamu.”

Surat Nabi Muhammad SAW untuk Raja Heraclius

Mu’awiyah menjawab surat tersebut. Dari Muawiyah kepada Heraklius
(Hiroql): “Apa urusanmu ikut campur urusan dua saudara yang sedang
berselisih? Kalau kamu tidak diam, akan aku kirimkan pasukan kepadamu. Pasukan yang mana bagian terdepan berada di tempatmu dan yang terakhir
berada di tempatku ini. Pasukan yang akan memenggal kepalamu dan membawakannya
kepadaku, dan akan aku serahkan ke Ali.”

Sepenggal kisah di atas setidaknya menggambarkan dua hal kepada kita.

1. Bahwa perbedaan pendapat, perselisihan, bahkan konflik di kalangan umat
bukan merupakan perkara baru

Makam Muawiyyah I dan sahabat lainnya seperti Abdul Malik bin
Marwan RA, Al Walid bin Abdul Malik RA Fudhalah bin Ubaidullah RA di daerah Syria

Ia sudah ada, bahkan sejak sesaat
Rasulullah SAW wafat, yg melibatkan dua kelompok utama penyokong dakwah Rasulullah, yaitu kaum muhajirin dan anshor.

Tapi ummat ini
senantiasa punya jalan keluar dan caranya sendiri dlm menyelesaikan
konflik dan perselisihan yg terjadi di tengahtengah mereka.

Kisah-kisah
konflik dan perselisihan tersebut justru kini menjadi warisan berharga yang
merupakan referensi bagi kita dalam menyelesaikan konflik ketika
perselisihan mencuat di antara kita.

2. Dalam  suasana konflik sekalipun, generasi terbaik umat ini tetap mampu
membedakan mana musuh yg sesungguhnya dan mana saudara yg hanya sekedar
berselisih paham

Ilustrasi Kaisar Heraklius saat memasuki Yerusalem Palestina

Sikap inilah yang kemudian mampu menutup celah
adu domba yg akan dilakukan oleh musuh, maupun oleh (meminjam istilah
ust. Anis Matta) ‘orang lain di tengah kita’.

Tak bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika saat itu Mu’awiyah menerima tawaran dari Heraklius.

Demikian pula dgn kita saat ini. Bisa jadi kita berbeda pandangan dengan
saudara kita atas satu perkara. Namun bukan berarti kita akan selalu
berbeda pandangan denganya dalam segala hal.

Jika kita bisa
saling menghormati dgn pihak lain terhadap hal-hal yang belum kita sepakati,
maka terhadap saudara sendiri seharusnya hal tersebut bisa lebih kita
lakukan.
Apalagi di saat saudara kita tengah bersiap berlaga di
arena. Tahan sejenak silang pendapat di antara kita, karena musuh yang
sesungguhnya sudah di depan mata. Jangan salah melempar sasaran yang
justru hanya akan membuat musuh bertepuk tangan.

Akal sehat kita pasti lebih memilih memenangkan pilihan saudara kita, ketimbang musuh kita bersama yang harus menang.