Simbol-simbol Haji Yang Menjebol Keangkuhan dan Kebekuan Hati

Ngelmu.com 1/9, Klaten – Haji adalah salah satu rukun Islam dan bentuk ibadah yang sarat simbol dan makna. 

Hal itu sepatutnya membuat muslim yang mampu melakoni maupun yang hanya bisa menyaksikan atau berada di sekitarnya, merasakan gejolak batin dan jiwa. Gejolak yang mampu mendobrak keangkuhan diri dan kebekuan hati.

Simbol-simbol Haji antara lain:

Ihram

Berpakaian ihram itu laksana dikafani. Pemakainya sedang “magang” menjadi “jasad” yang bersiap menuju dan bertemu Sang Khaliq. Ihram adalah simbol kepulangan kita menuju Allah. Semua jamaah haji berpakaian sama, dua lembar kain putih lebar tanpa jahitan.

Pakaian Ihram itu adalah simbol yang paling “melucuti”. Semua pakaian yang merupakan simbol identitas diri ditanggalkan saat Haji. Tak ada lagi pangkat, jabatan, kehormatan, semua sama di mata Allah. Semua harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, mempertanggungjawabkan segalanya.

Miqat

Miqat adalah simbol titik tolak keberangkatan kita mempersembahkan diri ini hanya kepada Allah yang Maha Besar, dengan sesadar sadarnya.

Shalat sunnah dua rakaat di Miqat adalah dialog dan permohonan kita pada-Nya agar dilindungi dalam setiap langkah untuk memberontak dari berbagai Ilah selain ALlah.

Shalat sunnah di Miqat juga adalah janji kita pada-Nya bahwa tidak ada lagi ruku’ dan sujud selain pada Rabb semesta alam.

Miqat adalah simbol kelahiran baru, simbol kebangkitan manusia untuk memulai perjalanan menuju Tuhannya.

Hajar Aswad

Di garis Hajar Aswad, semua memulai hitungan thawaf. Hajar Aswad adalah simbol di mana tiap manusia memulai orbitnya, awal sebuah lintasan menghampiri Allah SWT.

Tangan kanan kita harus melambai ke arah batu hitam itu. Sebuah batu yang diyakini bukan berasal dari bumi. Seakan berfungsi merekam siap saja yang pernah hadir dan melambaikan tangan, menyambut seruan Tuhannya di sana.

Melambai atau menyentuh Hajar Aswad adalah simbol berjanji setia pada aturan Allah. Di sinilah kita memutus perjanjian dengan lainya. Di sinilah kita memilih jalan, menetapkan sasaran dan masa depan.

Ka’bah

Ka’bah adalah simbol simbol penunjuk arah karena bukan ke kubus kosong yang berada di lembah itulah tujuan setiap hamba berhaji.

Ka’bah adalah antitesa dari sebuah titik penyembahan. Ia bukan bangunan yang megah dan mewah, hanya batu hitam berbentuk kotak. Ia tidak berada di titik yang tinggi, justru berdiri di lembah, pusat terjadinya banjir jika hujan turun tiada henti.

Memang begitulah ka’bah. Ia hanya simbol penunjuk arah, bukan tujuan akhir penyembahan. Bangunan sederhana berselimut kain hitam itu sebagai pengingat bahwa ia bukan terminal akhir dari ruku’ dan sujud setiap hamba.

Ka’bah juga merupakan simbol pemersatu umat. Tempat di mana semuanya mengorbit saat thawaf dan mengarahkan wajah saat memanjatkan do’a.

Maqam Ibrahim

Di Maqam Ibrahim, sebuah batu yang di atasnya tertera jejak kaki Nabi Ibrahim, kita harus menegakkan shalat dua rakaat. Berdiri di sana adalah simbol bahwa kita berada di posisi Nabi Ibrahim. Posisi seorang tokoh besar manusia yang membela tauhid dengan segalanya, dengan kekuatan, harta dan jiwanya.

Berdiri di sana adalah simbol bahwa kita adalah pemberontak besar yang siap menentang segala bentuk keberhalaan di muka bumi dan totalitas membela ke-esa-an Allah SWT.

Berdiri di maqam Ibrahim adalah simbol siap menjalankan segala perintah Sang Pencipta. Siap untuk terjun ke api yang membara dan bahkan siap menyembelih leher putra tercintanya sendiri.

Ya di sinilah Nabi Ibrahim bersyahadat. Sebuah posisi tertinggi seorang hamba. Begitulah yang dicontohkan Nabi Ibrahim, pendiri Ka’bah, arsitek rumah pembebasan dan peradaban, pengusung terdepan tauhid dan penentang segala jenis berhala dan Iblis penggoda.

Air Zam Zam

Air Zam-zam adalah simbol buah dari keyakinan yang kuat dan kerja keras. Air zam-zam muncul pada waktu dan lokasi yang tidak disangka-sangka. Muncul dari tanah dekat kaki Nabi Ismail yang sedang meronta kehausan.

Zam-zam adalah simbol pemberian kasih sayang ALlah yang menyejukkan, menyegarkan, menghidupkan dan mengalir tiada batas.

Bulan Haram

Bulan Haram adalah simbol yang melengkapi kemuliaan tanah suci. Sehingga semua aktivitas ibadah di tanah suci mendapat jaminan aman.

Bulan haram itu ada empat yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram (bulan Haji) dan satu bulan sendirian, yaitu bulan Rajab.

Selama bulan haram, masyarakat tidak diperkenankan melakukan peperangan. Dalam rangka memberi jaminan keamanan bagi masyarakat yang hendak menunaikan ibadah haji. Sementara bulan rajab adalah bulan umrah. Selama satu bulan ini, mereka wajib memberi suaka kepada yang hendak berangkat umrah.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah: 36)

Dalam hadisnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, apa saja empat bulan haram itu.

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 3197 dan Muslim 1679)

Kerikil

Kerikil yang disiapkan untuk melempar jamrah adalah simbol dari persenjataan yang harus manusia miliki dalam menghadapi godaan syetan. Mencari kerikil pada malam usai dari Arafah adalh simbol setiap manusia menngumpulkan senjata dan mempersiapkan mental menghadapi berbagai musuh keesokan harinya.

Kerikil adalah simbol di mana menghadapi syetan, butuh modal, senjata dan persiapan mental serta fisik.

Tiga Berhala

Tiga tempat melempar jamrah atau tiga berhala yang terdapat di Mina adalah simbol syetan yang mencoba menggoda Nabi Ibrahim. Semuanya masih tetap tegak berdiri hingga akhir zaman.

Tiga berhala ini adalah simbol di mana godaan syetan akan tetap tegak sampai akhir zaman dan manusia harus siap untuk memeranginya juga hingga akhir.

Ritual Pengurbanan

Ini adalah simbol ketaatan Nabi Ibrahim pada Rabb-Nya dan Kepasrahan Nabi Ismail akan perintah Ilahi. Ritual pengorbanan menjadi sebuah adegan yang terus diulang tiap tahunnya agar selalu menjadi tadzkirah bagi umat muslim sedunia.

Ritual pengurbanan juga menjadi pertanda akan berlangsungnya ibadah haji di tanah haram dan aksi berbagi di belahan bumi lainnya.

(Firtra Ratory dari berbagai sumber)