Sukses Meski Menyandang Skizofrenia

TIGA puluh  tahun lalu, dokter mendiagnosis saya menderita skizofrenia. Dan katanya itu berarti kuburan: tidak akan pernah bisa hidup mandiri, tak akan bisa bekerja, tidak akan menemukan pasangan hidup, tidak bisa menikah. Rumah saya akan berupa fasilitas perawatan, hari-hari saya habis di depan TV bersama sesama penderita penyakit mental; saya hanya bisa bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan kasar pada saat pikiran saya tenang.

Setelah rawat inap psikiatri terakhir pada usia 28, seorang dokter mendorong saya untuk bekerja sebagai kasir. Dan ini mendatangkan perubahan. Katanya, jika saya bisa melakukannya, mereka akan meninjau ulang kapasitas saya untuk memegang posisi yang lebih menuntut kemampuan berpikir dan menganalisis, bahkan mungkin saya mendapat pekerjaan full-time.

Lalu saya membuat keputusan: saya ingin menuliskan cerita hidup saya. Dan hari ini, saya seorang profesor di Sekolah Hukum University of Southern California Gould. Saya juga aktif di departemen psikiatri Sekolah Kedokteran University of California, San Diego, menjadi anggota fakultas di New Center for Psychoanalysis dan mendapat beasiswa dari Yayasan McArthur.

Meskipun saya berjuang menentang diagnosis itu selama bertahun-tahun, akhirnya saya bisa menerima bahwa saya memang menyandang skizofrenia dan akan menjalani perawatan selama hidup. Memang, terapi psikoanalitik dan obat-obatan berperan penting untuk keberhasilan ini. Yang ingin saya tolak adalah prognosis bahwa skizofrenia berarti hidup yang “mati”.

Pandangan psikiatri konvensional menganggap bahwa orang seperti saya ini tidak akan pernah ada. Menurut mereka, pasti saya tidak menderita skizofrenia (tolong katakan itu pada delusi yang berkerumun dalam pikiran saya), atau saya tidak bisa mencapai apa yang sekarang telah saya capai (tolong katakan pada panitia penerimaan mahasiswa di USC).

Tapi inilah saya: penyandang skizofrenia sekaligus profesor hukum. Berbagai penelitian dengan rekan-rekan di USC dan U.C.L.A. menunjukkan bahwa saya tidak sendirian. Ada banyak orang yang menyandang skizofrenia dengan gejala aktif seperti delusi dan halusinasi, sekaligus memiliki prestasi akademik dan profesional yang signifikan.

Selama beberapa tahun terakhir, saya dan beberapa rekan, termasuk Stephen Marder, Alison Hamilton dan Amy Cohen, mengumpulkan 20 subyek penelitian dengan high-functioning skizofrenia di Los Angeles. Mereka menderita gejala seperti delusi ringan atau perilaku halusinasi. Rata-rata usia mereka adalah 40.

Setengah dari mereka laki-laki, setengahnya perempuan, dan lebih dari separuhnya adalah minoritas. Dan mereka semua memiliki ijazah SMA, dan mayoritas sudah atau sedang berupaya memasuki perguruan tinggi atau meraih gelar sarjana. Mereka adalah mahasiswa pascasarjana, manajer, teknisi dan profesional, pengacara, psikolog, dokter, dan chief executive dari sebuah organisasi nirlaba.

Pada saat yang sama, sebagian besar belum menikah dan punya anak, yang mana ini konsisten dengan diagnosisnya. (Kami berniat melakukan studi lain pada orang-orang dengan skizofrenia yang berfungsi tinggi dalam hal hubungan.

Saya sendiri menikah di usia pertengahan 40-an. Hal terbaik yang pernah terjadi pada saya, mengingat hampir 18 tahun tidak pernah berkencan). Di antara subyek penelitian kami itu, lebih dari 75% telah dirawat di rumah sakit antara dua sampai lima kali karena penyakit mereka, sedangkan tiga orang lainnya belum pernah dirawat.

Bagaimana orang-orang dengan skizofrenia dapat berhasil dalam studi mereka dan memiliki pekerjaan tingkat tinggi? Kami belajar bahwa, di samping pengobatan dan terapi, semua peserta telah mengembangkan teknik pengendalian diri saat terkurung dalam kungkungan skizofrenia.

Bagi sebagian orang, teknik ini kognitif. Seorang pendidik dengan gelar master mengatakan ia telah belajar untuk menghadapi halusinasi dan bertanya, “Apa bukti untuk itu?” Atau, “itu hanya masalah persepsi?” Peserta lain berkata, “Saya mendengar suara-suara menghina sepanjang waktu. … Anda hanya harus meniup mereka pergi.”

Bagian penting dari kewaspadaan terhadap gejala skizofrenia adalah “mengidentifikasi pemicu” agar “gejala-gejala tersebut tidak meledak hingga tingkat maksimum,” kata seorang peserta yang bekerja di sebuah organisasi nirlaba.

Misalnya, jika berada di sekeliling banyak orang terlalu lama dapat memicu gejala skizofrenia, maka sisihkan waktu beberapa saat untuk menyendiri saat Anda bepergian dengan teman-teman.

Teknik lain yang disampaikan peserta termasuk mengendalikan masukan sensorik. Bagi beberapa orang, ini berarti menjaga ruang hidup mereka tetap sederhana (dinding kosong, tidak ada TV, hanya musik yang tenang), sedangkan untuk orang lain itu justru berarti memanfaatkan gangguan musik. “Saya akan mendengarkan musik keras jika saya tidak ingin mendengar hal-hal lain,” kata seorang peserta yang berprofesi sebagai asisten perawat bersertifikat. Yang lain menyebut olahraga, diet sehat, menghindari alkohol dan cukup tidur. Keyakinan pada Tuhan dan doa juga memainkan peran bagi beberapa partisipan lain.

Salah satu teknik yang paling sering disebutkan membantu pengelolaan gejala skizofrenia adalah pekerjaan. “Pekerjaan telah menjadi bagian penting dari siapa saya,” kata seorang pendidik dalam kelompok kami. “Ketika Anda merasa berguna dan merasa dihormati dalam organisasi itu, maka Anda merasa memiliki nilai tertentu sebagai bagian dari organisasi itu.” Orang ini bahkan bekerja pada akhir pekan juga karena “factor-faktor gangguan.” Dengan kata lain, dengan terlibat dalam pekerjaan, hal-hal “gila” akan terdesak ke pinggir.

Secara pribadi, saya mencoba menghubungi dokter, teman-teman dan keluarga setiap kali saya merasa mulai tergelincir, dan saya mendapatkan dukungan besar dari mereka. Saya makan makanan yang menyamankan (untuk saya itu adalah sereal) dan mendengarkan musik yang tenang. Saya meminimalkan stimulasi luar.

Biasanya teknik ini, dikombinasikan dengan obat dan terapi, akan membuat gejala skizofrenia luntur. Tapi hal-hal terkait pekerjaan—menggunakan pikiran—adalah pertahanan terbaik saya saat ini. Ini membuat saya terfokus. Pikiran saya, saya dapat simpulkan, adalah musuh terburuk saya sekaligus teman terbaik.

Berbagai kisah itu membuat saya menyesali betapa sering dokter mengatakan kepada pasien mereka untuk tidak mengharapkan atau mengejar karier. Terlalu sering, pendekatan kejiwaan konvensional untuk penyakit mental adalah mengucilkan mereka.

Oleh karena itu, banyak psikiater berpandangan bahwa mengobati penyakit mental hanya bisa dilakukan dengan obat-obatan. Pandangan ini gagal memperhitungkan kekuatan dan kemampuan individu, menjadikan para profesional kesehatan mental memandang remeh apa yang dapat dicapai pasien dalam kehidupan mereka.

Dan ini bukan hanya tentang skizofrenia: awal bulan ini, The Journal of Child Psychology and Psychiatry memuat sebuah studi yang menunjukkan bahwa sekelompok kecil orang yang diberi diagnosa autisme, gangguan perkembangan, belakangan berhenti menunjukkan gejala-gejala gangguan itu.

Mereka tampaknya telah pulih—meskipun setelah bertahun-tahun pula menjalani terapi perilaku dan pengobatan. Sebuah artikel di The New York Times baru-baru ini  juga menggambarkan sebuah perusahaan baru yang mempekerjakan orang dewasa dengan gangguan autisme, memanfaatkan kemampuan mereka yang tidak biasa dalam hal memori dan perhatian terhadap detail.

Tentu saya tak ingin berlebihan juga. Gangguan mental melahirkan batasan-batasan, tentu, dan sangatlah penting untuk tak terjebak pada romantika. Tidak bisa semua orang seperti peraih Nobel, John Nash, seperti dalam film “A Beautiful Mind.” Namun benih-benih pemikiran kreatif kadang dapat ditemukan dalam penyakit mental, dan orang sering meremehkan kekuatan otak manusia untuk beradaptasi dan mencipta.

Sebuah pendekatan yang berusaha menggali kekuatan individu, di samping mempertimbangkan gejala gangguan, dapat membantu menghilangkan pesimisme yang melingkupi penyakit mental. Menemukan “kesehatan dalam penyakit,” seperti diistilahkan seorang penyandang skizofrenia, haruslah menjadi tujuan terapeutik.

Dokter harus mendesak pasien mereka untuk mengembangkan hubungan dan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang berarti. Mereka harus mendorong pasien menemukan perbendaharaan mereka sendiri, teknik untuk mengelola gejala gangguan mereka dan meraih tujuan hidup sebagaimana mereka sendiri mendefinisikannya. Para dokter juga harus menyediakan bagi pasien sumber daya—terapi, pengobatan dan dukungan—untuk membuat semua itu bisa terwujud.

“Setiap orang memiliki talenta dan diri yang unik, yang dibawanya saat lahir ke dunia,” ujar seorang pastisipan studi kami. Dia mengungkapkan kenyataan bahwa sebagian dari kita yang menyandang skizofrenia dan penyakit mental lainnya menginginkan apa yang semua orang inginkan: dalam kata-kata Sigmund Freud, untuk bekerja dan mencintai. [PN/mizanmag.com/nytimes.com]

*Elyn R. Saks adalah profesor hukum di University of Southern California dan penulis memoar “The Center Cannot Hold: My Journey Through Madness.”