Tanpa Rooney, Manchester United Menang Besar


Ngelmu.com, Depok – Manchester United akhirnya berhasil mengakhiri catatan buruknya dalam tiga laga terakhir mereka. Dua kekalahan menyakitkan di ajang Liga Premier dan satu di Liga Europa membuat kapasitas skuat dan strategi Jose Mourinho sempat dipertanyakan khalayak luas.

Kemenangan telak 4-1 atas Leicester City, seakan menunjukan kekuatan sebenarnya The Red Devils. Gol-gol MU dilesatkan oleh Chris Smalling (22’), Marcus Rashford (37’), Juan Manuel Mata (40’), dan Paul Labile Pogba (42’). Sedangkan Leicester hanya mampu menyarangkan satu gol, melalui gol indah dari Demarai Gray (59’).

United memang sejak dimulainya babak pertama, sudah mempunyai inisiatif menyerang sehingga memaksa barisan pertahanan The Foxes keteteran. Mengandalkan umpan-umpan pendek menjadi strategi yang diterapkan Mou saat menghadapi Leiceseter, Sabtu (24/9).

kabarbolablog.blogspot.com

Strategi Tepat Mencadangkan Rooney

Keputusan Mou untuk mencadangkan Rooney pada saat lawan Leicester Sabtu lalu dianggap menjadi keputusan yang sangat tepat. Pasalnya Wayne Rooney pada beberapa laga terakhir dengan United tampil sangat buruk. Bahkan saat menghadapi Watford Rooney bermain sangat buruk dengan seringkali melakukan salah umpan dan melakukan umpan-umpan yang tidak akurat.

Tanpa mengenyampingkan sosol Rooney yang adalah seorang kapten dan pemain senior Manchester United, akan tetapi fakta membuktikan di lapangan. Pasalnya pada saat menghadapi Leicester tanpa diperkuat Wazza, United tampil sangat apik. Hal itu juga karena keleluasaan Pogba yang kerap merangsek mendekati kotak penalti dan langsung memberikan umpan matang kepada Ibrahimovic.

Permainan Pogba yang pada saat yang sama dimainkan bersama Rooney seakan tidak memiliki visi yang jelas dalam bermain. Sabtu bermain sangat berbeda dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Selain berhasil mencetak satu gol, uman-umpan serta kerjasama di lini tengah bersama Ander Herrera juga dianggap sangat luar biasa.

Ditambah dengan gerak Juan Mata yang memainkan perannya sebagai Atacking Miedfielder menggantikan peran Rooney sangat mematikan. Jika dibandingkan peran Mata dan Rooney sebagai gelandang serang di MU, jelas pada pertandingan melawan Leicester peran Mata sangat mencolok ketimbang Rooney.

Apiknya Permainan Umpan Pendek United juga tidak terlepas dari dua pemain mereka yaitu, Pogba dan Mata. Pogba yang juga berperan sebagai pengumpan handal saat membela Juventus, Sabtu malam lalu benar-benar menunjukan kualitasnya seperti pada saat membela Juventus. Sedangkan Mata yang memang bermain di posisi aslinya sebagai jembatan antara lini tengah dan lini depan United, juga memainkan perannya dengan sangat sempurna.

Hal itu terlihat di gol kedua United, selain gol itu dicetak oleh Mata. Proses terjadinya gol Mata juga tidak terlepas dari umpan-umpan pendek dari Pogba, Mata, dan Jesse Lingard. Operan satu dua itu pun menghasilkan gol cantik yang menusuk ujung kanan gawang Robert Zieler.

 

(Sumber FourFourTwo, Statistik Passing Juan Mata (Atas) vs Leicester dan Wayne Rooney (Bawah) vs Watford)

Dengan data statistik diatas, menunjukan kualitas Mata yang sempat diisukan tidak akan mendapat tempat di skuat Manchester United di tangan Mourinho. Mungkin kini Mou harus berpikir ulang untuk bisa menjadikan Mata menjadi starter utama atau bergantian dengan Rooney.

Mourinho sebenarnya memiliki kelimpahan pemain di lini tengah, namun sejauh ini performa lini tengah Manchester United masih belum menemukan konsistensi. Dengan hadirnya Paul Pogba di area tengah MU, Mourinho seharusnya jauh lebih tenang. Akan tetapi Mou kerap salah menempatkan posisi Pogba yang semestinya diberi keleluasaan dalam memberi umpan langsung ke striker yakni Zlatan Ibrahimovic.

Sekali lagi saya merasa jika kesalahan terjadi di posisi Wayne Rooney, Rooney yang sejak era Loius Van Gaal di rotasi posisinya menjadi gelandang dari striker utama. Sejak saat itu pula Rooney serasa tidak memiliki posisi yang jelas, pasalnya tidak hanya menjadi gelandang serang saat ini. Rooney bahkan pernah di tempatkan menjadi gelandang tengah atau sayap kiri.

Meskipun kerap bergonta-ganti posisi, Rooney tak kunjung menunjukan performa konsistennya seperti halnya di era Sir Alex Ferguson. Hal inilah yang mempertanyakan Rooney, apakah dirinyamemang sudah habis atau ada faktor lain yang membuat permainan Wazza tidak segemilang dua atau empat tahun lalu.

Peran sang kapten seakan terkubur ketika melihat performa anak-anak asuhan Mourinho yang lain, semisal Marcus Rashford yang semakin menggila dengan tidak pernah absen dalam urusan mencetak gol di empat pertandingan terakhirnya. Jesse Lingard juga menunjukan aksi luar biasa dengan mengemas satu asist untuk Juan Mata.

Nasib Rooney bisa saja berakhir sama dengan nasib Iker Cassilas di Real Madrid pada musim 2013 lalu. Kala itu Cassilas yang masih di latih Mourinho di Madrid, harus merelakan posisi utamanya digusur oleh Diego Lopez. Mou yang melihat performa Cassilas tidak memuaskan, tak segan-segan mendepak sang kapten dari skuat utama Los Blancos meski pada saat itu berstatus kapten dan pemain senior di Madrid.

Meski nasib Rooney masih jauh dibanding Cassilas karena Mou masih tetap mempercayakan Rooney untuk tetap bermain, akan tetapi jika penampilan pemain 30 tahun itu masih d bawah standar, bukan tidak mungkin nasibnya akan sama dengan kiper asal Spanyol itu.

Dengan hasil yang diraih MU ini pun, menambah kepercayaandiri para pemain serta pelatih di guna mengarungi empat kompetisi kedepan. Kekalhan beruntun yang dialami United beberapa saat lalu memang harus segera dilupakan dan bangkit dengan kepercayaan diri tinggi. Apalagi pekan ini United akan kembali menjalani laga di Liga Europa menghadapi Zoya Henks di Old Trafford, Kamis (29/9), tentu hasil positif di dua pertandingan ini akan coba dipertahankan United.