Uang Rakyat Indonesia, Dari Penulusuran Hingga Mistik

Ngelmu.com – Dalam sejarah Indonesia masa kini, sejumlah kisah masalah harta atau uang masih menjadi topik menarik di tengah masyarakat. Ada yang berasal dari jalur kisah masa lalu maupun berbau mistis atau klenik. Ada juga yang berasal dari penulusuran intelijen dan jurnalistik.

Berikut sejumlah faktanya. 

1. Tahun 1999, Harta Presiden Soeharto bedasarkan laporan majalah Time

Presiden BJ Habibie mengutus Jaksa Agung Andi M Ghalib bersama sejumlah pejabat menuju Swiss untuk mengecak kebenaran laporan majalah Time yang mengatakan presiden Soeharto menyimpan kekayaannnya di salah satu Bank di Swiss.

Laporan majalah Time menuliskan Soeharto melakukan transfer USD 9 miliar
dari Swiss ke bank Wina untuk mengamankan harta keluarganya setelah ia lengser dari jabatan presiden.

Andi Ghalib datang ke Bank di Swiss dengan berbekal surat kuasa Soeharto yg menyatakan bahwa info
itu tidak benar. Sesampai di sana, ia diberitahu pejabat bank Swiss,
jika benar ada transfer sebesar itu maka bank yang bersangkutan kolaps.
Untuk menghibur Andi Ghalib, pejabat bank Swiss berjanji akan membantu
jika Soeharto sudah dijadikan tersangka.

2. Tahun 2002,  Harta Karun di Istana Batu Tulis

Menteri Agama Said Agil Husin Munawar berdasarkan masukan dari seorang paranormal, menggali prasasti Batu Tulis di Bogor. Said Agil mengaku ia
didatangi seorang yang sudah menyimpan rahasia itu belasan tahun
lamanya, dan dia-lah yang dipercaya utk membongkar harta karun itu.

pikiran-rakyat.com

Berhari-hari digali, tidak ada secuil-pun harta karun yang konon kabarnya bisa melunasi semua hutang Republik Indonesia selama ini.

Said Agil
dicaci atas tindakannya yg merusak situs. Kenapa tidak ada hartanya?
“Soalnya ada yang berhati kotor, jadi hartanya raib.” begitu kata Said
Agil enteng.

Said Agil Al Munawar foto: wikiwand.com

 
Peristiwa ini berujung pada permohonan maaf menteri agama dan bantahan bahwa presiden kala itu Megawati menyetujui aksi tersebut.

3. Pada tahun 2002, Yayasan Yamisa

Pengurus yayasan bernama Yamisa mengaku
bahwa mereka mendapat kuasa mencairkan harta Soekarno sebesar Rp2.500 triliun.
Jika harta itu didapat maka rencananya akan dibagi-bagikan ke seluruh masyarakat Indonesia,
masing-masing Rp400 ribu per kepala selama empat tahun.

4.  Tahun 2016, Kasus Padepokan Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Kali ini yang terjerat adalah Marwah Daud Ibrahim, salah satu tokoh pusat MUI dan ICMI. Doktor Komunikasi Internasional di American University ini meyakini Taat
punya kemampuan khusus yang jarang dimiliki manusia biasa. “Beliau bisa
memindahkan barang dari dimensi satu (gaib) ke dimensi nyata,” kata
Marwah, Sabtu, 1 Oktober 2016 seperti dikutip Tempo.

Marwah lalu menyangkal pernah menerima dua koper berisi uang asli yang disangka ‘kiriman gaib’ dari Taat Pribadi. “Setahu saya tidak pernah,” kata Marwah melalui pesan pendek ke Tempo, Ahad, 2 Oktober 2016.

Saat ini kepolisian telah menangkap Dimas Kanjeng di padepokannya, 22 September 2016. Penangkapan itu terkait kasus pembunuhan dua pengikutnya, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah. Selain kasus pembunuhan, Kepolisian telah menetapkan Dimas Kanjeng sebagai tersangka kasus penipuan dan proses penegakkan hukumnya masih berlangsung.

5.  Tahun 2016, Data Kekayaan Orang Indonesia Di Luar Negeri.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah memiliki
data yang didapat dari pajak soal rekening warga Indonesia di luar
negeri. Dia menyebutkan potensi uang orang Indonesia yang beredar lebih
dari Rp 11.400 triliun.

“Potensinya lebih besar daripada GDP (gross domestic product).
GDP kita kan Rp 11.400 triliun,” ujarnya saat ditemui dalam seminar
bertajuk “RUU Tax Amnesty” di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 5 April
2016 seperti dikutip Tempo.

Sementara para pengusaha kelas kakap juga banyak yang menyembunyikan uangnya di beberapa negara yang merupakan kawasan “Tax Heaven”.

Kepada Tempo, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro
menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantongi data mengenai ribuan
perusahaan offshore dan perusahaan cangkang milik orang Indonesia di
luar negeri. “Nilainya ribuan triliun rupiah,” kata Bambang beberapa waktu lalu. (FR)