Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Ahok Effect

Oleh Hersubeno Arief*

Ngelmu.id – Dalam sebulan terakhir kesibukan Walikota Bandung Ridwan Kamil (RK) meningkat tajam. Selain aktivitas kesehariannya mengurus warga kota kembang, setiap akhir pekan RK melakukan safari ke berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat.

Selain bertemu para tokoh, kyai, alim ulama, kegiatan utama RK adalah meresmikan tim relawan Baraya Ridwan Kamil (Barka). Baraya,  saudara atau kerabat dalam bahasa Sunda ini akan menjadi tulang punggung tim sukses RK yang maju ke Pilgub Jabar 2018. Kira-kira tugas mereka sama seperti Teman Ahok. Bedanya sudah ada partai yang menyatakan kesediaannya mendukung RK.

Sejak mendeklarasikan diri sebagai Cagub Jabar sebulan lalu (17/3) RK langsung tancap gas. Berkejaran dengan waktu, karena Pilkada Jabar 2018 akan digelar pada bulan Juni. Artinya tinggal 14 bulan lagi waktu yang tersisa. Bukan waktu yang panjang.

Modal awal dukungan dari Partai Nasdem membuat dia sangat pede. Apalagi ada survei yang menyatakan tingkat popularitas dan elektabilitasnya paling tinggi dibandingkan dengan kandidat potensial lainnya seperti  Wagub Deddy Mizwar maupun mantan Wagub Dede Yusuf.

Bagaimana kira-kira nasib pencalonan RK. Bisakah dia mewujudkan niatnya menjadi orang No 1 di Jabar?  Mari kita telaah fakta-fakta berikut.

Entah secara kebetulan atau tidak, perjalanan karir RK rada mirip-mirip Ahok. Mereka diketahui juga berteman cukup baik.

Pertama, kandidat non partai. Kedua, meninggalkan partai pendukung. Ketiga, pandai memanfaatkan sosial media. Keempat,  dideklarasikan pertama kali oleh Partai Nasdem.

Kandidat non partai

RK maju dalam Pilkada Kota Bandung 2014 dengan diusung oleh  PKS dan Gerindra. Ketika itu PKS baru saja memenangkan Pilkada Jabar dan mesin politiknya masih panas. Hanya saja mereka tidak punya figur yang kuat, lalu muncullah nama RK seorang arsitek perencanaan kota. Perpaduan antara figur muda, mesin politik PKS yang kuat dan keinginan warga Bandung mencari  figur baru, membuat RK memenangkan kursi  Bandung 1.

Jangan lupa faktor  Ahmad Heryawan (Kang Aher) dan Prabowo Subianto memberi andil yang sangat kuat dalam kemenangan RK. Kang   Aher baru saja terpilih menjadi Gubernur Jabar untuk periode kedua. Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra adalah salah satu kandidat terkuat Pilpres 2104.

Perpaduan Islam dan nasionalis yang sangat pas dan kuat. Keduanya menjadi endorser yang sempurna bagi RK.

Sampai di sini yang perlu dicatat, RK dan Ahok sama-sama tokoh non partai yang diusung sebagai kandidat. Hanya bedanya RK tidak menjadi kader PKS ataupun Gerindra. Sementara Ahok menjadi kader Gerindra.

Meninggalkan partai pendukung

Tak lama setelah terpilih sudah terlihat gelagat RK mulai meninggalkan partai pendukungnya. Dalam berbagai kesempatan RK selalu mencoba menegaskan bahwa dirinya adalah figur independen. Kesannya dia ingin menghapus jejak dan bayang-bayang PKS dan Gerindra. Tidak seperti Ahok, RK tidak perlu keluar dari partai karena memang tidak pernah secara resmi menjadi anggota. Sementara Ahok memutuskan keluar dari Gerindra ketika berbeda sikap dalam soal sistem pilkada langsung menjadi kembali ke DPRD.

Renggangnya RK dengan pendukungnya terutama PKS,  sesungguhnya sudah terasa pada saat kampanye. RK dinilai banyak tidak memenuhi komitmennya dan bermain sendiri. Hanya saja anggota PKS adalah tipe kader yang loyal kepada apapun keputusan partai.

Jadi walaupun kecewa dengan RK mereka tetap bekerja keras dan ikhlas mensukseskan pencalonan RK yang dipasangkan dengan Ketua DPD PKS Kota Bandung Oded M Danial. Mereka secara militan melakukan kampanye door to door, direct selling bahkan dengan modal dari kantong sendiri.

Pandai memanfaatkan media sosial.

Setelah dilantik figur RK yang muda dan pandai memanfaatkan media sosial menjadi udara segar bagi Kota Bandung. Seperti Ahok, RK juga rajin meng-upload berbagai kegiatannya di youtube dan berinteraksi dengan warga melalui berbagai platform medsos antara lain twitter. Dalam bahasa anak muda Bandung, aing pisan, gua banget.

RK menjadi bintang baru di dunia maya dan digadang-gadang akan menjadi pemimpin masa depan Jabar, bahkan Indonesia.

Didukung oleh Nasdem

Persamaan lain antara Ahok dengan RK adalah Nasdem yang menjadi partai pertama mendukungnya. Bedanya dengan Ahok,  Nasdem mendukung tanpa syarat. Sementara pada RK, Nasdem mengajukan tiga syarat. Pertama, RK harus menjadikan Jabar sebagai benteng Pancasila. Kedua, tidak menjadi anggota parpol. Ketiga, mendukung pencalonan Jokowi sebagai Capres 2019.

Ketiga syarat itu diterima secara mutlak oleh RK. Entah apa kalkulasi politiknya, tetapi langkah RK bisa dipastikan telah menjadi blunder besar, apalagi bila dikaitkan dengan Ahok Effect dan hasil Pilkada 2017.

Ahok Effect memberi dampak negatif bagi partai-partai pendukungnya. Meminjam istilah yang dikenalkan oleh Presiden Bush untuk membuat batas demarkasi dan menakut-nakuti musuhnya dalam Perang Irak, you are either with us or with enemy. Tinggal pilih mau bareng gua, atau bareng musuh!

Sejumlah survei menyebutkan, walau tetap diperingkat atas, tapi suara PDIP jauh menurun. Partai-partai Islam seperti PPP dan PKB porak poranda. Masih untung bagi PKB yang punya basis pendukung di Jatim. Itupun sudah rontok sebagian. Sebaliknya dua sejoli Gerindra dan PKS menjadi partai yang perkasa dan mendulang simpati publik yang tinggi.

Dengan dampak Ahok Effect yang sangat merusak, agaknya pilihan waras bagi partai-partai Islam menghindar jauh-jauh dari RK, bila mereka tak mau terpuruk lebih dalam. Yang paling mungkin bergabung dengan Nasdem adalah PDIP.

Bila PDIP bergabung dengan Nasdem dan kemungkinan ditambah Hanura, maka lengkap sudah posisi RK with enemy. Formasi ini akan dengan mudah mengingatkan publik Jabar dengan partai pendukung Ahok di Jakarta. Jadi siapapun lawan RK akan dengan mudah mengkapitalisasi memori pemilih di Jabar yang mempunyai sentimen negatif yang kuat terhadap Ahok.

Luka PDIP yang menganga

Bagi PDIP,  Jabar adalah medan yang berat. Luka mereka masih menganga akibat kekalahan dalam Pilkada 2013. Luka PDIP makin menganga lebar setelah mereka kalah di dua pilkada penting, Banten dan Jakarta. Ibarat pasukan tempur, mereka adalah pasukan yang kalah dalam dua medan pertempuran besar.

Pasukan yang kalah dan terluka itu masih harus berjuang keras mengatasi luka parah, baik secara fisik maupun psikis. Belum lagi bila bicara soal amunisi dan logistik untuk pertempuran. Semuanya terkuras. Yang cukup menyedihkan pasukan inilah yang paling berpeluang besar direkrut oleh RK.

Agak sulit membayangkan dan bisa dikatakan sebagai hil yang mustahal, Gerindra dan PKS akan mendukung RK. Gerindra sudah pasti sangat membenci syarat ketiga, berupa dukungan kepada Jokowi dalam pencapresan 2019. Bagaimanapun kekalahan pada Pilpres 2014, tidak membuat Prabowo surut. Mentalitasnya sebagai pasukan komando menjadikan dia ulet, tahan banting dan tak kenal menyerah.

Mentalitas pasukan komando yang memilih “lebih baik mati dalam pertempuran, daripada gagal dalam menjalankan tugas,” pasti sangat dijiwai oleh Prabowo. Lagi pula toh dia belum mati. Dia hanya kalah dalam satu medan tempur (Pilpres 2014) dan menang dalam medan tempur lainnya (Pilkada DKI 2017).

Prabowo pasti menginginkan memenangkan kembali berbagai pertempuran lain (Pilkada serentak 2018), sebelum kembali maju dalam perang pamungkas Pilpres 2019. Persaingan Prabowo-Jokowi pada 2019 akan menjadi medan Perang Kurusetra, ketika pasukan Pandawa berhadapan dengan Astina/Kurawa.

PKS juga hampir dipastikan tidak akan mendukung RK. Hubungan yang kurang harmonis dan sikap RK yang “tidak tahu berterima kasih” bakal menjadi ganjalan besar. Lagi pula salah satu syarat yang diajukan Nasdem adalah menjadikan Jabar sebagai Benteng Pancasila.

Syarat apa pula ini? Apakah selama Kang Aher menjadi Gubernur, Jawa Barat menjadi daerah yang anti Pancasila?. Anti NKRI? Tidak Bhineka? Atau  Jabar menjadi daerah yang memberlakukan syariat Islam? Semua itu mengingatkan PKS dan umat Islam pada hantu yang diciptakan oleh para Ahoker untuk menstigma dan sekaligus menakut-nakuti pemilih yang akan mendukung Anies-Sandi.

Selama hampir dua periode menjabat, Aher menjadikan Jawa Barat sebagai wilayah yang maju dengan se-abreg penghargaan. Bulan ini saja Provinsi Jabar mendapat penghargaan dari Depdagri sebagai provinsi dengan kinerja terbaik.

Stigma buruk yang coba disematkan melalui syarat Benteng Pancasila tadi pasti sangat menyakitkan Kang Aher sebagai pribadi maupun PKS sebagai partai. Kang Aher adalah gubernur yang sangat dibanggakan oleh PKS dan umat Islam Jabar.

Oleh warga Sunda, dia juga digadang-gadang sebagai calon pemimpin nasional. Maklum sebagai etnis kedua terbesar setelah Jawa, peran etnis Sunda dikancah nasional, relatif minim. Jadi mereka butuh tokoh yang menjadi representasinya. Saat ini Kang Aher adalah pilihan yang bisa menyatukan berbagai kepentingan di kalangan etnis Sunda.

Yang paling masuk akal bagi PKS adalah mendorong Wagub Deddy Mizwar (Kang Demiz) untuk maju, dipasangkan dengan kader mereka. Bila PKS yang meng-endorse rasanya Gerindra juga akan langsung mengamini. Kang Demiz adalah sosok calon yang memenuhi semua syarat. Sebagai seniman kaliber kakap, dia punya level pergaulan nasional dan mempunyai teman dari berbagai golongan, lintas agama, lintas partai.

Bagi umat Islam Indonesia dan Jabar khususnya, Kang Demiz juga akan selalu dikenang dengan pidatonya yang menggetarkan sukma ketika ber-orasi di depan Mujahidin asal Jabar yang akan berangkat ke Jakarta mengikuti Aksi Bela Islam (ABI). Dia berani tampil membela, menafikan kedekatannya dengan Ahok dan Jokowi ketika Islam dinistakan.

Dengan konstelasi seperti itu akan berat bagi RK untuk melangkah. Ahok effect akan memberi dampak perlawanan yang sulit dikalkulasikan. Jangan lupa pada waktu ABI III Jabar melalui para santri dari Ciamis telah memberi kontribusi yang luar biasa terhadap kebangkitan semangat umat Islam seluruh Indonesia.

Dengan aksi long march-nya mereka menerobos barikade dan represi petugas kepolisian. Aksi santri yang sebagian berusia remaja, bahkan ada yang anak-anak itu memberi inspirasi dan energi yang menggerakkan gelombang jutaan manusia, berbondong-bondong mengubah lapangan Monas dan sekitarnya menjadi lautan putih. Mereka pasti tidak akan tinggal diam.

Jalan kaki dari Ciamis-Jakarta sepanjang 370 km saja hanya soal kecil bagi mereka, apalagi cuma long march dari Ciamis-Bandung. Itu mah sudah jadi menu sarapan pagi.

Bagi RK Pilgub Jabar akan menjadi medan pertempuran berat. Jabar bukanlah Bandung. Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia dengan wilayah yang juga luas, Jabar adalah lautan, samudera dengan gelombang yang ganas.

PKS-Gerindra kapal yang lengkap dengan awak plus logistiknya yang mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Bandung, ditinggalkan begitu saja. Dia melompat ke kapal lain yang tengah diamuk gelombang pasang.

Bila tidak pandai-pandai meniti gelombang, kapal akan tenggelam dan dia ikut tenggelam bersamanya. Kecuali bila dia bisa menyiapkan sekoci penyelamat.

Orang bijak mengajarkan kepada kita sebuah petuah “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.” RK tampaknya ingin pergi cepat  meninggalkan jabatan sebagai Walikota Bandung yang baru akan berakhir pada September 2019,  mengejar jabatan gubernur yang lebih menggiurkan. Karena itu dia memutuskan untuk pergi seorang diri.

*Konsultan Media dan Politik