Waspadai Politik TIJITIBEH dalam Pilkada DKI

Oleh Ariwibowo*

Ngelmu.id – Pilkada DKI Jakarta kali ini memang sarat dinamika dan pertaruhan politik yang luar biasa. Polarisasinya begitu nyata dan terbuka. Bahkan demarkasi politik antar pihak sebegitu keras dan vulgar. Termasuk didalamnya adalah siapa di balik siapa kini sangatlah mudah untuk dicerna.

Menarik dibahas apa yang terjadi belakangan pada pilkada putaran kedua ini. Di mana elektabilitas calon petahana terus menerus merosot. Dari berbagai lembaga survey, merilis informasi yang hampir sama, di mana eletabilitas petahana hanya di sekitaran angka 41-43%, di bawah elektabilitas kandidat nomer 3, yang rata2-rata memiliki elektabilitas diatas 47%. Dan ini berlangsung lama serta berkali-kali hasil survey. Tentunya, sinyal survey yang menggambarkan elektabilitas ini cukup membuat gerah dan gelisah petahana dan tim nya. Kalau tidak bisa dibilang panik.

Berbagai kampenye gelap (black campaign) begitu masive dilakukan pihak petahana terhadap kandidat nomer 3. Dari mulai selebaran, akun palsu (fake account), fitnah media hingga proses hukum melalui perangkat negara yg kasusnya sangat terlihat mengada-ada, lengkap dan sempurna.

Rupanya kepanikan petahana tidak hanya sampai disitu, diakhir masa kampanye, dalam masa tenang, tiba-tiba warga Jakarta dibanjiri sembako murah oleh tim petahana yang jelas-jelas adalah kampanye. Tapi hampir tidak ada tindakan nyata dari aparat penyelenggara pemilu dan keamanan.

Di beberapa tempat memang dilarang dan dibubarkan, namun banyak yang tetap terlaksana. Bahkan rumah dinas anggota dewan dijadikan markas penimbunannya. Sebuah budaya demokrasi yang rusak dan hancur dari sebuah prose demokrasi tengah dipertontonkan.

Kepanikan tidak berhenti begitu saja, intimidasi dan kekerasan juga mewarnai kepanikan tim petahana.

Banyak berseliweran video bagaimana intimidasi tim petahana terhadap warga yang menolak banjir sembako di mana-mana. Dan banyak lagi intimidasi fisik dan non fisik yang terjadi di mana-mana.

Ada semacam upaya terencana untuk mengkondisikan dan memprovokasi warga Jakarta, khususnya ummat Islam untuk bertindak membalas perlakuan intimidatif dan provokatif ini.

Masih ingat, video kampanye petahana yang menuai kritik tajam dari berbagai pihak karena menampilkan distorsi tentang sosok kaum muslimin yang beringas dan kasar? Sebuah framing yang dipaksakan.

Di samping distorsi cerita yang katanya diambil dari kejadian tahun 98 yang nyatanya khayalan, dlalam video tersebut juga terdapat distorsi lainnya tentang spanduk ganyang cina, sebuah framing yang berbahaya.

Banyak yang bertanya, kenapa setting video mengetengahkan gambaran yang tidak sebenarnya dan mengambil tema kerusuhan? Apakah hanya sekedar ingin mengambil simpati dari segmen tertentu ataukah sebuah framing baru dan pengkondisian?

Belum lama juga terjadi intimidasi dan provokasi kepada kaum muslimin, ditengah ribuan jamaah tabligh akbar damai Habib Riziq, tiba-tiba terjadi ledakan dan kebakaran sebuah mobil yang menggelinding ke arah jamaah, bahkan beberapa mobil lainnya juga siap diledakan dan dibakar, namun tak sempat terjadi, hanya ditemukan tumpukan jerigen bahan bakar di dalam mobil-mobil tersebut.

Dan seperti biasa aparat keamanan, dengan lambat datang ke tempat kejadian yang hingga kini tak mampu mengungkapkan motif dan pelakunya.

Beda sikap dan sigapnya ketika menghadapi bom panci, yqng dalam hitungan jam dan hari sudah selesai.

Aneh bin ajaib bukan.

Berbagai keanehan dan kejanggalan atas banyak kejadian ini semakin mengindikasikan sebuah premis tentang kepanikan dan ketakukan akan sebuah kekalahan dari proses demokrasi yang sedang berjalan. Sehingga rasionalitas dan fatsoen politik tak lagi menjadi pagar dan aturan.

Menerabas batas-batas rasionalitas dan fatsoen politik adalah sebuah cara lain dari kepanikan untuk sebuah kemenangan yang dipaksakan atas bayang-bayang kekalahan yang seperti sudah di depan mata.

Wajar saja ini terjadi, lantaran sudah banyaknya modal yang keluar serta pertaruhan politik dan kekuasaan yang sedemikian jor-joran. Tentunya, kekalahan adalah sebuah kepahitan dan kerugian bagi mereka-mereka yang menghamba pada kekuasaan untuk kepentingan uang dan uang serta pemodal.  Segala carapun ditempuh untuk menang.

Namun ada satu hal lain dari ambisi kemenangan dari kepanikan pihak-pihak pemodal dan haus uang ini yang patut dikhawatirkan.

Melihat gelap mata dan buta hati cara-cara yang mereka lakukan, dengan menghalalkan segala cara, menerabas hukum, aturan main dan kewajaran, yaitu sebuah jalan dimana mereka tak lagi peduli dengan kemenangan dan kekalahan.

Pada taraf ini sebenarnya bukan lagi kepanikan yang mereka simpan, tapi sebuah keputus asaan dan tekanan dari sebuah kekalahan yang tidak mereka bisa terima. Sudah habis-habisan tetapi tetap kalah dan yang lebih menyakitkan adalah efek kekalahan akan menyeret pada dampak politik jangka panjang setelahnya atau bahkan dapat masuk dalam ranah hukum yang membahayakan.

Dalam ketakutkan yang akut seperti ini, pilihan untuk mengambil langka politik TIJI TIBEH menjadi terbuka dan memungkinkan.

Politik Tiji Tibeh alias mati siji mati kabeh (mati satu mati semua), populer di era orde baru. Di mana diartikan sebagai upaya untuk menihilkan keberadaan dan eksistensi politik semua pihak. Tidak ada boleh yang menang, alias semua hancur lembur mengalami kekalahan dan kehancuran.

Jalan politik Tiji Tibeh ini sepertinya sangat terbuka dan disiapkan untuk mengantisipasi sebuah kekalahan dan kegagalan politik.

Eskalasi provokasi dan intimidasi adalah jalan pembukanya. Sebuah pengkondisian yang masif belakangan ini dilakukan. Dari yang verbal dan non verbal, dari yang non fisik dan fisik. Intimidasi dan provokasi kerap dilakukan di mana saja dan di simpul-simpul pemantiknya.

Kerusuhan (rush and chaos), adalah cara termudah untuk menciptakan suasana Tiji Tibeh. Dimulai dari konflik horizontal yqng keras dan tak terkendali. Yang kalau kita lihat hari ini, arah persiapan ke sana begitu terstrukturnya.

Sehingga kehati-hatian dan menahan diri untuk tidak terprovokasi adalah sebuah upaya untuk mencegahnya.

Apabila Tiji tibeh ini berhasil dilakukan, yang paling dirugikan adalah masyarakat luas, khususnya kaum muslimin. Kerugian ekonomi dan terutama kerugian sosial.  *Di saat yang sama , para sutradara dan pemodal durjana, akan dengan mudahnya lari meninggalkan arena perseteruan antar anak bangsa dan sesama kaum muslimin.* Mengamankan diri dan keluarganya tetapi tetap berinvestasi dan akan balik lagi jika kondisi kondusif serta kembali merecoki kta semua.

Jangan sampai ini terjadi, tetaplah menahan diri tidak terpancing emosi dan provokasi.

Ikuti dan saling berpegang tangan lebih erat, bersama para ulama dan pemimpin kaum muslimin yang sebenarnya. Tetap bersabar dan perbanyak doa untuk kebaikan bangsa dan ummat.

Sekali lagi, jgn terprovokasi,tahan emosi, dan ikuti pesan dan arahan ulama-ulama kaum muslimin yang menjadi pemimpin kita. Eskalasi ini akan terus meningkat dan penuh dinamika.
{يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون} [آل عمران : 200]

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.( Ali Imran: 200)

*Budayawan