Tokoh PKI

Akhir yang Mengenaskan Para Tokoh PKI di Indonesia

Akhir yang Mengenaskan Para Tokoh PKI di Indonesia.

30 September 1948.

Setelah Madiun dikuasai pasukan Siliwangi dan Brawijaya, orang-orang komunis berpencar. Pada pekan ke dua oktober 1948, Tokoh PKI Musso dan Amir Syarifuddin, dua pucuk pimpinan PKI berselisih paham.

Konflik keduanya karena rebutan kekuasaan dan beda pendapat soal basis penyerangan. Musso akhirnya berpisah jalan, ia bergerak ke Tegalombo, Pacitan, Jawa Timur dengan pengawal terakhir hanya tersisa dua orang. Musso ditembak di mata air pemandian umum setelah dikepung satu pleton tentara. Mayatnya dibawa ke rumah sakit Ponorogo dengan mengendarai bendi. Difoto lalu diawetkan dengan formalin. Tapi karena mayatnya tetap membusuk, diam-diam akhirnya dibakar.

29 November 1948.

Dengan rambut gondrong, brewok tak terurus, muka pucat seperti kehilangan darah, Tokoh PKI Amir Syarifuddin menyerah. Berhari-hari di rawa dengan bekal minim membuat Tokoh PKI ini lunglai dan terserang disentri. Dia sulit keluar dari rawa di hutan Klambu, Grobogan, Jawa Tengah, yang terkenal angker. Amir berjalan terpincang-pincang saat dijemput pasukan Senopati. Bekas Perdana menteri Indonesia itu hanya memakai piyama, sarung lusuh, dan tak bersepatu, layaknya gembel.

Pada 1953 Amir dibawa ke Ngalihan, Solo. Larut malam ia dieksekusi mati. Kata-kata terakhirnya adalah “bersatulah kaum buruh sedunia. Aku mati untukmu!”. Hingga berkalang tanah, makamnya tanpa nisan tak dikenal orang dan tak terurus. Peristiwa Ngalihan menjadi penutup episode Madiun yang menelan ribuan orang.

22 November 1965.

Tokoh PKI DN Aidit ditangkap dalam sebuah penggerebekan setelah bersembunyi di dalam lemari. Kolonel Yasir Hadibroto, komandan Brigade IV infanteri membawa Aidit meninggalkan Solo menuju ke arah Barat dengan iring-iringan tiga mobil jip. Tanpa sepengetahuan jip satu dan jip dua, jip terakhir dibelokkan Kolonel Yasir ke markas Batalyon 444. Dengan tangan terborgol di belakang, Yasir membawa Aidit ke sebuah sumur tua, lalu mempersilahkan Aidit mengucapkan pesan terakhir. Aidit malah berapi-api pidato.

Dor! Pidato Aidit-pun diakhiri dengan tembakan yang melubangi dadanya. Penanggung jawab G 30 S/PKI ini terjungkal masuk sumur. Konflik antara Amir Syarifuddin dan Musso di masa PKI Madiun ternyata gak selesai sampai di situ. Konflik pendahulu ini diturunkan ke penerusnya.

Sebelum sukses jadi pimpinan partai, bersama Nyoto dan Lukman, Aidit terlebih dahulu “mengkudeta” kelompok PKI tua, Alimin dkk yang dinilai melakukan banyak kesalahan. Alimin pada dasarnya gak sejalan dengan prinsip-prinsip Musso.

Ironisnya, menjelang petaka 1965 menurut Soetarni bekas istri Nyoto, suaminya malah disingkirkan Aidit karena kedekatan Nyoto dengan Bung Karno. Nyoto memang sempat menyerang keyakinan Aidit tentang kudeta. “Revolusi siapa melawan siapa?” tanya Nyoto.

Muncul pula spekulasi dari kesaksian Soebandrio bahwa Aidit ditelikung Sjam Kamaruzzaman soal perintah pembunuhan tujuh jenderal. Sungguh lika-liku seteru yang rumit.

Dari mana sebenarnya ideologi komunis ini berakar di Nusantara?

Jauh sebelum Tokoh PKI Aidit dan Musso, seorang tokoh bernama Semaoen, menanamkan komunisme ke Sarekat Islam (SI), yang kemudian menjadi benih konfliknya dengan HOS.Tjokroaminoto yg notabene adalah gurunya. Padahal Tjokro pernah berkata “Bagi kita tak ada socialisme atau rupa-rupa isme lainnja. Jang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan socialisme jang berdasar islam itulah sadja”. Tjokro menegaskan keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian, bisa tercapai lewat ilmu tauhid. Buah pikiran Tjokro selalu berlandaskan penafsiran Alqur’an dan hadits, karena itu pula ia tak takut menyerang Karl Marx yang menurutnya nyata-nyata memungkiri Tuhan.

Pada tahun 1919 Semaoen akhirnya memilih hengkang dari Sarekat Islam dan mengubah SI Semarang menjadi Sarekat Rakyat. Pada 1920, Semaoen mengambil alih Indische Sociaal Democratische Vereeneging (ISDV) dan mengganti namanya menjadi PARTAI KOMUNIS INDONESIA.

Nah..

Inilah awal dan akhir kisah pemimpin-pemimpin partai penyebab jatuhnya korban jiwa manusia yang terbanyak dalam sejarah Indonesia. Genosida yang kini seolah akan dikaburkan oleh segelintir orang-orang yang entah dari mana tiba-tiba saja mendaku diri sebagai pihak yang terzalimi.

Adakah ibrah yang bisa diambil? adakah kesan husnul khotimah dari shirah PKI-iyah di atas? wallahu’alam bisshowab..

Yang bisa kita simpulkan bersama, gak usah jauh-jauh dulu ngomong soal pengkhianatan bangsa, kalo dalam tubuh internal PKI sendiri saja ternyata sarat khianat mengkhianati, tipu muslihat, saling sikut, baku hantam, kalah filem India. Beberapa di antaranya berakhir tragis dengan mati secara mengenaskan.

Lantas apa yang hendak mereka banggakan dan ingin mereka bangkitkan dari ideologi busuk ini? Orang-orang gagal kok jadi panutan? Beberapa orang yang ada di friendlist kita pasti ada saja yang masih meyakini kalo gak ada yang perlu dikuatirkan dari PKI. Kata mereka kita paranoid, sumbu pendek, dan ngawur soal kebangkitan ini. PKI katanya sudah mati.

Ya, itu gak salah. PKI mati secara harfiah, tapi ideologinya hidup dan merajalela. Anak-anak muda yang bangga dengan kekiri-kirian, petantang-petenteng pake kaos gambar Semaoen, atau pake pin palu arit. Berfoto profil saya Indonesia saya pancasila tapi gak sungkan mengorek-ngorek luka lama bangsa. Begitu disenggol, eeh.. manis di bibir memutar kata. Pemerintah kayaknya sudah saatnya merevisi Tap MPRS No.25 Tahun 1966 Tentang Pembubaran PKI. Kalo sekadar dibubarkan, barisan upacara juga dibubarkan, tapi toh senin depan bisa berbaris lagi.

Jadi jangan dibubarkan, melainkan dibasmi. Seperti kecoak di kamar mandi.

Mungkin ada yang mau protes, dari mana sumber tulisan cerita-cerita di atas?

Baiklah.. Sekadar info saja kalo ini semua gw rangkum dari tiga edisi khusus majalah Tempo.

Edisi Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, Majalah Tempo agustus 2011.

Edisi Musso dan Madiun, Majalah Tempo november 2010.

Dan edisi Peran Aidit dalam G 30 S/PKI, Majalah Tempo oktober 2007. Kebetulan gw kolektor edisi-edisi khusus majalah Tempo yang sejak dulu gw akui belum ada media yg setara dengannya dalam hal investigasi dan bank data.

Kalo masih ada lagi yang ngomong ini gak obyektif, waduh… keterlaluan deh. Kurang obyektif gimana kalo Pak GM sebagai orang yg kemarin pertama kali berisik mempermasalahkan rencana pemutaran film Pengkhianatan G 30 S/PKI oleh TNI Angkatan Darat dan menganggapnya sebagai propaganda Orde Baru, ternyata juga punya pengaruh yang kuat di majalah ini.

So, kalo yg gw tulis ini hoax, berarti salahkan juga Pak GM yang ikut andil mengakomodir berita hoax. Hehe..

Akhirul kalam. Dulu Bung Karno pernah berkata “JASMERAH, Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah”

Sekarang izinkan Bung Arham juga berkata “JASHUJAN, Jangan Sok Tahu dan Sok Jadi korban”

Tabik.. gw mau lanjut gebuk-gebuk adonan kue dulu. Maklum, cuma tukang kue yang sedikit melek sejarah.

Jadi bisanya sebatas gebukin kue saja. Pengen sih gebukin PKI, tapi sayang gw bukan presiden. Hiks..

Oleh: Arham Rasyid

NEXT