Maukah Dikau Menyapaku Saat Kau lewat Malam Nanti

Karya Rahmat Ismail

Dikau dinanti bermilyar umat di malam-malam Ramadhan.
Walau ketibaanmu adalah pasti sekalipun tiada seorangpun tahu kapannya.
Berharap cemas, akankah Kau sapa kami.
Wahai Malam Seribu Bulan.

Kami menantimu, dalam alunan qiraatul Quran.
Dalam rakaat tarawih yang genap dan witir yang ganjil.
Dalam bacaan shalawat dan salam pada Nabiyul Rahmah.
Kami menantimu dalam doa dan i’tikaf.

Sebelum fajar esok menyingsing.
Maukah kau menyapa saat kau melintas di depan rumah kami.
Di atas kubah dan menara Masjid.
Di atas kemacetan ibu kota yang makin menjadi-jadi tanpa solusi.
Di atas negeri yang ulama dan kyai ditangkapi.

Mungkinkah kau menyapaku.
Kurasa kau tidak mengenalku.
Karena imanku tergolong adh’aful iman.
Karena ibadahku masih terasa sangat minim.
Amal shalehku hampir tiada punya makna.
Tanpa sinar yang berkilau sedikitpun dari diriku yang membuat kau tertarik untuk menoleh padaku.

Tapi, wahai Malam Lailatul Qadr.
Sapalah kami bila kau tiba.
Kami semua sangat merindukanmu.

2017