Puntadewa (Catatan Sore)

Ngelmu.id – Wayang berikut gelaran-nya bisa digunakan untuk bahan refleksi kehidupan. Masing masing parogo wayang menggambarkan sosok sosok karakter manusia. Ada yang sifatnya ksatria, ada yang sekedar berlindung istana, ada yang culas, ada sosok raja yang adil, ada sosok raja yang tidak adil penuh angkara, ada yang ambisius ada yang tidak punya ambisi. dalam perjalanan lakon ada yang antagonis, ada yang protagonis.

Lalu, diantara ragam parogo wayang itu ada sesosok tokoh wayang Puntadewa. Puntodewa adalah sulung dari kadang Pandawa yang duduk menjadi raja di kerajaan Amarta. Raja yang adil dan sangat penyayang terhadap rakyatnya, raja yang sudah lulus dari ambisi keduniawian. Ibaratnya jika ada orang yang meminta apapun dari dirinya, dia akan memberikan apa saja yang diminta. Konon, sifat sifat yang sempurna semacam itu dibentuk melalui proses yang panjang. Tentu, dalam perjalanan kehidupannya tidak begitu saja berjalan begitu mulus. Sebaik-baik karakter yang dimiliki Puntadewa, namun dia pernah juga berbuat kesalahan. Yaitu, saat dia terseret pada perjudian yang akibatnya dia dan kerabatnya terbuang dari kerajaan.

Bila perjalanan Puntadewa itu merefleksikan gambaran orang yang berproses menjadi orang yang bertaqwa maka prosesnya diawali dengan pertaubatan atas kesalahan. Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Lalu yang dituntut adalah kesalahan itu harus disesali, tidak lagi kesalahan itu diulangi dan kesalahan itu ditutup dan diganti dengan perbuatan perbuatan kebaikan.

Dalam Al-Qur’an, tergambarkan juga demikian. Ketika Allah berfirman untuk menggambarkan orang yang Muttaqin..karakter Muttaqin itu diawali dengan..

“wasari’u Ila maghfiratim mirrabbikum..”

“dan bersegaralah kamu untuk mendapatkan ampunan Allah SWT”.